499x60a

This is default featured slide 1 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured slide 2 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured slide 3 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured slide 4 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured slide 5 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

Jumat, 31 Juli 2015

Foto Hots cewek Cina






Semua ini hanya demi uang  aku dah bosan hidup dengan keadaan pas - pasan

Tanteku yang Binal

Bukan salahku kalau aku masih menggebu-gebu dalam berhubungan seks. Sayangnya suamiku sudah uzur, kami beda umur hampir 15 tahun, sehingga dia tidak lagi dapat memberi kepuasan sex kepadaku. Dan bukan salahku pula kemudian aku mencari pelampiasan pada pria-pria muda di luar, untuk memenuhi hasrat seks-ku yang kian menggebu di usia 35 ini. Dengan TB 170cm BB 58kg Bra 36C aku merasa sangat seksi dan sintal dengan payudara yang membusung besar ke depan dengan pantat njedol ke belakang apalagi perut ramping dan pinggul besar membulat, menambahkan tubuhnya yang bongsor ini semakin bahenol dan montok. Namun sepandai-pandainya aku berselingkuh akhirnya ketahuan juga. Suamiku marah bukan kepalang memergoki aku berpelukan dengan seorang pria muda sambil telanjang bulat di sebuah motel.

Dan ultimatum pun keluar dari suamiku. Aku dilarang olehnya beraktivitas diluar rumah tanpa pengawalan. Entah itu dengan suamiku ataupun anakku. Tak sedikitpun aku lepas dari pengawasan mereka bertiga. Secara bergantian mengawasiku. Anton anak kakak sulungku yang baru masuk kuliah dapat giliran mengawasi di pagi hari karena dia masuk siang. Siangnya giliran Linda anakku sendiri yang duduk di kelas dua SMA, untuk mengawasiku. Dan malamnya suamiku kena giliran. Tentu saja aktivitas seks-ku pun terganggu total. Hasratku sering tak terlampiaskan, akibatnya aku sering uring-uringan. Memang sih aku bisa masturbasi, tapi kurang nikmat. Dua minggu berlalu aku masih bisa menahan diri.


Sebulan berlalu aku sudah stres berat. Bahkan frekuensi masturbasiku terus bertambah, sampai pernah sehari 10 kali kulakukan. Tapi tetap saja tak pernah mencapai kepuasan yang total. Aku masih butuh kocokan penis keras laki-laki. Seperti pada pagi hari Senin, saat bangun pagi jam 8 rumah sudah sepi. Suamiku dan Linda anakku sudah pergi, dan tinggal Anton yang ada di bawah. Aku masih belum bangkit dari tempat tidurku, masih malas-malasan untuk bangun. Tiba-tiba aku tersentak karena merasa darahku mengalir dengan cepat. Ini memang kebiasaanku saat bangun pagi, nafsu seks-ku muncul. Sebisanya kutahan-tahan, tapi selangkanganku sudah basah kuyup.

Aku pun segera melorotkan CD-ku lalu BH didadaku sehingga susu montok besar mancung itu leluasa muntah keluar dan langsung aku menyusupkan dua jari tangan kananku ke lubang vaginaku. vaginaku yang merekah kemerahan ditumbuhi rambut kemaluan yang hitam sangat lebat mulai dari bawah pusar sampai pada vaginaku yang seret ini membentuk segitiga hitam agak keriting. Aku mendesis pelan saat kedua jari itu masuk, terus kukeluar-masukkan dengan pelan tapi pasti. Aku masih asyik bermasturbasi, tanpa menyadari ada sesosok tubuh yang sedang memperhatikan kelakuanku dari pintu kamar yang terbuka lebar. Dan saat mukaku menghadap ke pintu aku terkejut melihat Anton, anak kakak sulungku, sedang memperhatikanku bermasturbasi.

Tapi anehnya aku tidak kelihatan marah sama sekali, tangan kanan masih terus memainkan kemaluanku, dan aku malah mendesah keras sambil mengeluarkan lidahku. Dan Anton tampak tenang-tenang saja melihat kelakuanku. Aku jadi salah tingkah, tapi merasakan liang vagina yang makin basah saja, aku turun dari tempat tidur dan berjalan ke arah Anton. Tubuh bongsorku yang sintal berjalan dengan buah dada menari-nari ke kanan ke kiri mengikuti langkahku, dengan sesekali kebelai bulu kemaluan vaginaku menambah rangsangan pada Anton kemenakanku itu. Anak kakak sulungku itu masih tenang-tenang saja, padahal saat turun dari tempat tidur aku sudah melepas pakaian dan kini telanjang bulat. Aku yang sudah terbuai oleh nafsu seks tak mempedulikan statusku lagi sebagai tantenya.

Saat kami berhadapan tangan kanan langsung meraba selangkangan anak itu.

“Bercintalah dengan Tante, Anton!” pintaku sambil mengelus-elus selangkangannya yang sudah tegang. Anton tersenyum,

“Tante tahu, sejak Anton tinggal disini 6 bulan lalu, Anton sudah sering membayangkan bagaimana nikmatnya kalo Anton bercinta dengan Tante..”
Aku terperangah mendengar omongannya.

“Dan sering kalo Tante tidur, Anton telanjangin bagian bawah Tante serta menjilatin kemaluan Tante.”
Aku tak percaya mendengar perkataan kopanakanku ini.
“Dan kini dengan senang hati Anton akan ‘kerjai’ Tante sampai Tante puas!”.

Anton langsung memegang daguku dan mencium bibirku dan melumatnya dengan penuh nafsu. Lidahnya menyelusuri rongga mulutku dengan ganas. Sementara kedua tangannya bergerilya ke mana-mana, tangan kiri meremas-remas payudaraku dengan lembut sementara tangan kanannya mengelus permukaan kemaluanku.

Aku langsung pasrah diperlakukan sedemikian rupa, hanya sanggup mendesah dan menjerit kecil.

"hmmmmhh.. terus ton.. ahhhh... enaaakk... " Racau ku.


Puas berciuman, Anton melanjutkan sasarannya ke kedua payudaraku. Kedua puting susuku yang besar coklat kehitaman, dihisap anak itu dengan lembut. Kedua permukaan payudaraku dijilati sampaimengkilat, dan aku sedikit menjerit kecil saat putingku digigitnya pelan namun mesra. Aduh, tak henti-hentinya aku mendesah akibat perlakuan Anton. Ciuman Anton berlanjut ke perut, dan diapun berjongkok sementara aku tetap berdiri. Aku tahu apa yang akan Anton lakukan dan ini adalah bagian di mana aku sering orgasme. Yah, aku paling tak tahan kalau kemaluanku di oral seks.

Anton tersenyum sebentar ke arahku, sebelum mulutnya mencium permukaan lubang vaginaku yang rimbun tertutup bulu kemaluan yang sangat lebat. Lidahnya pun menari-nari di liang vagina, membuatku melonjak bagai tersetrum. Kedua tanganku terus memegangi kepalanya yang tenggelam di selangkanganku, saat lidahnya menjilati klitorisku dengan lembut.

"Shhhh....oohhhh...Enak banget ton... ahhhh.. kamu memang pintar"
"arrrhhhhhh... tante sudah mau keluarrrrr........"

Dan benar saja, tak lama kemudian tubuhku mengejang dengan hebatnya dan desahanku semakin keras terdengar. Anton tak peduli, anak itu terus menjilati kemaluanku yang memuncratkan cairan-cairan kental saat aku berorgasme tadi.

Aku yang kelelahan langsung menuju tempat tidur dan tidur telentang. Antontersenyum lagi. Dia kini melucuti pakaiannya sendiri dan siap untuk menyetubuhi Tantenya dengan penisnya yang telah tegang.

“Aaahh besar banget penismu, keras berotot panjang lagi, tante suka penis yang begini ”
sahutku takjub keheranan dan gembira karena sebentar lagi vaginaku akan dikocok penis yang gede dan panjang, kira-kira ukurannya panjang 20 cm diameter 4 cm coba bayangin hebat kan. Anton bersiap memasukkan penisnya ke lubang vaginaku, dan aku menahannya,

“Tunggu sayang, biar Tante kulum penismu itu sebentar.”

Anton menurut, di sodorkannya penis yang besar dan keras itu ke arah mulutku yang langsung mengulumnya dengan penuh semangat. Penis itu kini kumasukkan seluruhnya ke dalam mulutku sementara dia membelai rambutku dengan rasa sayang. Batangnya yang keras kujilati hingga mengkilap.

“Sekarang kau boleh kocok dan genjot vagina Tante, Anton..” kataku setelah puas mengulum penisnya.

Diapun mengangguk, penisnya segera dibimbing menuju lubang vagina yang kemerahan merekah siap menerima tusukan penis besar nikmat itu. Vaginaku yang basah kuyup memudahkan penis Anton untuk masuk ke dalam dengan mulus.

“Ahh.. Anton!” aku mendesah saat penis Anton amblas dalam kemaluanku.
Anton lalu langsung menggenjot tubuhnya dengan cepat, lalu berubah lambat tapi pasti. Diperlakukan begitu kepalaku berputar-putar saking nikmatnya. Apalagi Anton seringkali membiarkan kepala penisnya menggesek-gesek permukaan kemaluanku sehingga aku kegelian.

Berbagai macam posisi diperagakan oleh Anton, mulai dari gaya anjing sampai tradisional membuatku orgasme berkali-kali. Tapi dia belum juga ejakulasi membuatku penasaran dan bangga. Ini baru anak yang perkasa. Dan baru saat aku berada di atas tubuhnya, Anton mulai kewalahan. Goyangan pinggulku langsung memacunya untuk mencapai puncak kenikmatan. Dan saat Antonmemeluk dengan erat, saat itu pula air mani membasahi kemaluanku dengan derasnya, membuatku kembali orgasme untuk yang kesekian kalinya.

Selangkanganku kini sudah banjir tidak karuan bercampur aduk antara maniAnton dengan cairanku sendiri. Anton masih memelukku dan mencium bibirku dengan lembut. Dan kami terus bermain cinta sampai siang dan baru berhenti saat Linda pulang dari sekolah. Sejak saat itu aku tak lagi stress karena sudah mendapat pelampiasan dari keponakanku. Setiap saat aku selalu dapat memuaskan nafsuku yang begitu besar. Dan tidak seorang pun mengetahui kecuali kami berdua.

Tante Sari...Tetangga ku yang bahenol

Namaku iwan, Aku masih kelas dua sma, sedangkan tante sari ku taksir berusia di atas 40 tahun. Punya 2 anak. Satu udah kelas 1 smp, yang satu lagi baru 5 tahun. Entah beruntung atau bencana aku dapat belajar seks dari tante sari, wanita setengah baya tetanggaku.


Hari itu aku tidak sekolah, karena aku nungguin rumah, semua keluarga pergi ke luar kota untuk acara hajatan saudara. Lumayan lah dapat izin bolos dari orangtua, padahal rumah gak di tungguin juga gak bakalan di gondol maling.

Eva, anak tante sari yang masih empat tahun itu deket banget denganku. Aku juga seneng bermain dengannya abisnya lucu sih. Nah, selama berada di rumah itu aku bermain saja sama eva.

Jam setengah satu, tante sari datang kerumahku memanggil eva di suruh bobo siang. Tapi sayang, eva nggak mau, nangis dia. Akhirnya tante sari memintaku untuk kerumahnya sampai eva tidur siang. Barulah aku bisa pulang.

Diruang tengah rumah tante sari, Aku duduk di sofa sambil nonton tv di lantai di hadapanku, tante sari sedang ngelonin eva.

Pandangan mataku terpecah, antara tv dan sosok tante sari. Tante sari yang tidur menyamping membelakangiku cukup membuat kontolku ngaceng, CD nya sedikit terlihat di bagian pinggang akibat kaos yang di kenakan sedikit tersibak. Tante sari sendiri pakai celana pendek di atas dengkul.

Tidak perlu lama tante sari untuk menidurkan anaknya. Aku pun akan pamit untuk pulang.
“jangan dulu Wan, eva belum pules, sebentar lagi yah” pintanya.”lagian ngapain juga di kamu sendirian di rumah”
Bener juga ku pikir. Aku pun mengikuti permintaannya.

Setelah mengambilkan segelas sirup, tante sari duduk di sampingku. Ngrobol kesana kemari sambil nonton tv.
“kalau malam minggu kamu kemana Wan, tante lihat kamu selalu pergi” tanya tante

“biasalah tan, maen ama temen-temen, tuh di RW 2”

“kirain kamu ngapel”

“ah, saya belum punya pacar tan”

“bohong kamu, masa udah gede belum punya pacar”

“bener tante, nggak ada yang mau sih”

“bukan nggak ada yang mau, kamu nya kali kurang berani” kata tante sari “cewek perlu di deketin, meskipun dia suka, belum tentu cewek agresif”


Bener juga pikirku, Cuma hilir mudik saja nama cewek yang katanya naksir kepadaku sampe di telinga“wah, kayaknya saya mesti belajar nih sama tante”

“boleh aja, kamu mau tanya apa, tante siap jawab”

Tanya jawab dunia abg keluar begitu saja. Aku bertanya, tante sari menjawab. Bahkan kadang tanpa di tanya tante sari memberikan tips menaklukan cewek.

“kalau punya pacar, sampai berapa lama saya boleh cium cewek, terus sampai berapa lama juga saya boleh pegang tete nya” tanyaku.

Tante sari tertawa geli mendengar pertanyaanku. “waduh, niat pacaran kamu kok ngeres sih Wan. Pasti kebanyakan nonton film bokep ya?”

Aku malu hati di ledekin tante sari. tak bisa berkata-kata

“hei, kenapa nggak di jawab”

“iya tante” jawabku malu

“terus kalau habis nonton ngapain?”

Aku semakin malu saja, dan minta izin untuk pulang. Kemudian berdiri.

“hehehe….eit jangan pulang dulu, belum di jawab” tante sari menggenggam tanganku, menarik hingga aku kembali duduk disampingnya, seneng banget mempermainkanku begitu. “kekamar mandi yah, ngocok”

“tante ah, nanya nya kok gitu sih” jawabku protes, kontolku kembali ngaceng nongomin gitu.

Tante sari menarik ku kembali untuk duduk di sofa, lalu tiba-tiba wajahnya mendekati telingaku; merdu. “gimana kalau tante kocokin, lebih enak dari ngocok sendiri”

Aku kaget mendengar bisikan itu. belum lagi aku menjawab, tangan tante sari sudah di mendarat di kontolku.

“tante…...” aku memandangnya bingung.

Tante sari tidak menjawab. Ia membuka resleting dan kemudian celana jeans yang ku potong pendek . “oh rambutnya tebel banget wan, lumayan ukurannya”

Jembutku memang tebel, rambut halus menjalar hingga pusar. tante sari ngocok kontolku perlahan. Aku diam, menggigit bibirku sendiri.

“rasain wan, jangan di tahan” tante sari menciumi leherku. “enak wan?”

“iya…tante…egghhh…..ohh”

“sekarang tante kasih yang lebih enak” kepala tante sari meluncur kebawah. Kontolku langsung di hisepnya. Aku yang baru pertama kali di sentuh cewek sangat menikmati gaya ini. tangan ku memegangi kepalanya, dan sesekali toketnya. sementara mataku sesekali melihat ke arah eva yang masih tidur.

Tidak sampai lima menit spermaku muncrat di mulutnya. “ah,,,tante…ahhhh….”

Mhhh…mhhh tante melumat habis spermaku tanpa sisa. “gimana Wan, enak mana sama ngocok sendiri?” tante sari tersenyum

“enak ini tante”kataku jujur.

Tante sari sari duduk di pahaku, menciumku, senang sekali kulihat dia. “spermamu banyak banget sayang,.kentel, enak sekali”

sisa-sisa kenikmatan masih membekas di wajahku, tapi mataku masih belum puas.“tan, aku pengen lihat tete tante, boleh nggak?”

“kamu tadi udah pegang-pegang, masa di lihat nggak boleh, tapi ingat, jangan minta tante telanjang, tante nggak mau kamu minta lihat memek tante” tante sari mengangkat kaos putih yang di pakai. Dua gunung kembar tersembul di apit Bh. “lakukin sesukamu Wan”

Baru saja aku menyentuh sedikit toketnya, suara eva terdengar bangun. Selesai deh permainan.

***

Setelah kejadian itu,tiap hari aku berusaha mencari waktu untuk bisa mengulang di spong tante sari. Sayang, kesempatan tak kunjung datang. Ada saja gangguan, entah ada orang di rumahnya, eva tidak tidur, ada suaminya dll.

Sampai akhirnya kesempatan itu datang di malam minggu ketika aku akan nongkrong bersama temen-temen, jam tujuh malam, sekitar 2 bulan setelah kejadian pertama. Aku yang baru beberapa puluh meter keluar dari rumah, melihat tante sari dan eva sedang berjalan di jalanan.

“mau kemana eva, tante?”

“eh om iwan, eva mau beli es krim, om”

“Eva minta tolong aja ama om iwan beli eskrim nya. Biar kita nggak cape jalan” kata tante sari “mau kan Om?”

“emang mau om?”

“iya, om mau, sini uangnya. Ntar om iwan anterin ke rumah eva”

aku pun membelikan es krim untuk eva, tak mengapalah perjalanku terhambat dengan kejadian ini. dan mengantarkan ke rumah tante sari. Toh tante sari pernah memberikan service kepadaku.

Tok.tok.tok…... eva membuka pintu mengambil pesanannya, es krim coklat kesukaannya “sini om, masuk, main ama eva”

“ntar aja yah besok, om mau main dulu”

“iya Wan, masuk dulu, sebentar temenin eva”

“nggak usah tante, makasih” aku menolak, serius. Ngapain maen dirumah tante sari, kalau nggak ada suaminya sih mau.

“nangis eva, nangis, ayo’ kata tante sari, aneh, ibu nyuruh anaknya nangis. “tuh,tuh kan eva mau nangis” tante sari bercanda.

Pintar juga tante sari bercanda pikirku. “Udah masuk dulu, mau yang kayak kemarin nggak”

Doo….rrrrr, aku kaget. Suaminya? Tanyaku dalam hati

“papanya eva lagi ke rumah neneknya sama kakanya eva” tante sari seakan menjawab pertanyaanku.

Di janjiin yang enak-enak, mana mungkin ku tolak.

Aku, tante sari, dan eva nonton TV di ruang tengah, acara konser musik indonesia dengan ribuan penonton terlihat semarak . Lama sekali eva beranjak tidur. Sampai kapan aku nungguin kayak gini.

Barulah setelah hampir bosan aku menunggu, eva memejamkan mata dan di bawa ke kamar. Aku pun nagih janji tante sari. “tan”

Tante sari paham maksudku, :”masih sore wan, ntar aja” katanya sambil melihat jam dinding yang berada di angka setengah sembilan lewat lima menit

Busyet nih tante ngerjain gue, aku tidak peduli, ku peluk saja tubuhnya, “kamu gak sabar wan. Ok, tapi biar tante ganti pakaian dulu”

Tante sari masuk ke dalam kamar. Sekeluarnya, dia tampil cantik memakai daster tipis, celana dalamnya kelihatan transparan ,sementara putting toket nyeplak, menandakan dia gak pakai BH. Wangi semerbak menyeruak, rupanya tante sari memakai parfum di kamar tadi.

Aku langsung melorotkan celana panjangku, memberikan kontolku untuk di spong tante sari. Tidak lupa aku juga meremas-remas toket tante sari.

“ahhh,,,,ah,,,,enak tante…”

Tante sari terus melakukan janjinya kepadaku, memberikan service birahi yang tidak pernah aku lupakan. Ketika aku ingin membongkar dasternya, tante sari mencegah lenganku “jangan disini wan, di kamar aja”

Tante sari menarikku ke kamar kosong, kamar kakanya eva . Mendorongku ke tempat tidur hingga telentang. Menindih, dan membuka kaosku. Aku betul-betul telanjang bulat di kasur empuk. Tante menciumi dadaku , nafsu sekali dia, bahkan dia sendiri membuka dasternya, menggesek-gesekan toketnya ke dadaku, aku di di ciumi habis, sementara kontolku di gesek oleh memeknya yang pakai celana.

“tan, ayo tan, isep kayak kemaren” ayo gak sabar minta di spong tante sari, kayak dalam film bokep yang sering ku download di internet.

Tante sari menuruti permintaanku, ia mengisap kontolku, nikmat. Tapi, tiba-tiba tante sari berhenti, dan membuka celana dalamnya sendiri. Oh, aku lihat jembut tipis menempel disana. Agak sedikit heran, mengingat tante sari pernah mengatakan tidak ingin memperlihatkan memeknya kepadaku. Aku bangkit untuk dapat melihat lebih jelas, tapi sayang, tante sari mendorongku kembali telentang. Tante sari bergerak di atas tubuhku, lalu memberikan memeknya ke mukaku “jilatin Wan, jilatin…”.

Tanpa basa-basi, dan tanpa pengalaman jilat memek, memek tante sari ku jilati, ehm ada aroma yang baru ku kenal, aroma vagina.

“ehhh…….egggh,,,, terus wan, …..iya …gitu… lebih keras lagi……”

Tante sari rupanya sangat menikmati oralku, kepalanya kadang mendongak keatas, tangannya meremas toketnya sendiri. Rambutnya panjangnya berantakan.

“oh…..wan, enak,,,,,terus,,,, terus sayang,,,,,,,”

Aku yang baru melihat memek cewek secara langsung mempermainkan dengan dengan jari-jariku. Kadang menusuk-nusukan dengan jari-jariku. Ternyata memek tante sari lebih indah dari pada memek bule xxx movies

Tante sari menarik tubuhnya. Apa yang akan di lakukan?. Oh ternyata dia meraih kontolku, menggesek-gesekan ke bibir memeknya. ahh… geli sekali, helmku menyentuh daging lembut memek.

“ahhh…..ahhhhhh…gatel banget memek tante…..”

“ahhhh……eghhh….. tante ..enak……”

Tiba-tiba, tante sari membenamkan kontolku pada memeknya. bleessssss……. “ahhhhhhhhhhhh……………” tante menjerit kecil kemudian bergoyang –goyang naik turun.

:”ohhhhh……..tante…..”

Ini lah pertama kali kontolku masuk ke dalam memek. ngentot memek. Bukan lagi aku jadi penonton film xxx tapi ngentot secara nyata.

“eggghhh…..eghhhhh….eghhhhhh…..ahhh”hanya itu yang keluar dari tante sari sambil terus mengerakan tubuhnya.

“ohhh….achhh……eghhhhh…..”

“eghhh…………eghhh…ohh….”

“kalau mau keluar bilang yah sayang…..”tante sari berbisik

“egghhhh…..ohhhh…….”

Bles,..bles,,,,,,,,

Aku betul-betul menikmati goyangannya

“tante, aku mau keluar….eghhhh”

“tungguu,,,,,,bareng…..tante juga……oghhhh….ahghh…ayo…..tante mauuuu……”

“oh ….tante……”

“eghhhhhh…………egh………….aku keluar…tante….”

Crot-crot…..crot…………spermaku keluar….

“egmhmmm…….tante….ebgghhhh …….” Tante sari melumat bibirku kenceng banget. i membenamkan memeknya dalam-dalam, dari gerakan kasar, kemudian bergerak pelan, sampai akhirnya dia terkulai di atas dadaku.

Aku dan tante sari tersenyum. “enak sayang?”

Aku hanya mengganguk.

“jangan bilang siapa-siapa yah”

“aku janji tante”

Setelah aku mengenakan pakaian, aku ingin pulang untuk bergabung dengan temen-temenku.

“mau mau begadang ama temen, apa mau lagi” tante sari bertanya

Ternyata aku pilih begadang dengan tante sari, ngentot lagi, jam pulang aku sesuaikan dengan kebiasaanku begadang kalau malam minggu, jam setengah tiga.

Aku Menyerah


Ini adalah kisah lain yang terjadi antara aku dengan Oom Win (pamanku yang berusia 10 tahun lebih tua dariku dan masih menumpang di rumahku), ketika aku masih berumur 16 tahun. Sedikit latar belakang yang mendasari peristiwa ini dapat anda baca di cerita dengan judul "Om ku Nakal"

Ketika itu rumah memang sedang sepi, hanya Oom Win dan aku saja yang ada di rumah. Kedua orang tuaku sedang berlibur ke Bali dan kakak-kakakku yang sudah berkeluarga sudah pindah ke lain kota. Pembantu-Pembantu pun tidak ada karena memang saat itu hari lebaran.

Sambil malas-malasan, aku menonton televisi sendirian karena Oom Win juga belum pulang malam itu, jadi sekalian saja menunggu Oom Win (yang katanya akan membawa temannya malam itu). Sebetulnya aku agak kesal dengan berita itu karena aku berharap Oom Win dapat melakukan kegiatan "rutin" kami yang biasa kami lakukan sejak aku berumur 15 tahun.

Bunyi bel di pintu memecah konsentrasiku pada acara televisi, dan aku pun sudah menebak bahwa itu pasti Oom Win beserta temannya yang ada di luar pintu.

"Malam, Oom"
"Malam Anna, ini kenalkan teman Oom Firman"

Teman Oom Win ternyata adalah seorang keturunan Pakistan-Cina dengan tampang yang notabene diatas rata-rata. Tubuhnya tegap, dadanya bidang dan perawakannya yang lumayan tinggi telah mendapatkan simpatiku.

"Anna, Firman ini jago pijat lho"
"Anna kagak capek kok Oom, jadi kagak usah dipijat" sahutku sambil memasang tampang kesal di depan kedua orang itu.
"Anna, kamu jangan gitu dong sama teman Oom. Dia sengaja Oom undang malam ini untuk memijatmu karena Firman bukan pemijat biasa, dia ahli kecantikan"

Setelah mendengar kata-kata kecantikan yang ternyata cukup ampuh untuk mengubah pikiranku, aku pun setuju untuk dipijat oleh Firman.

"Firman, kamu mandi dulu deh setelah itu giliranku"

Dan selama Firman mandi, Oom Win menerangkan kepadaku bahwa Firman adalah seorang pemijat professional yang dapat mempercantik pasien-pasien nya, dan kepiawaiannya telah banyak terbukti.

"Ok deh, Oom. Anna mau dipijat oleh Firman dengan syarat nanti malam Oom mau melakukan kegiatan "rutin" kita"
"Iya, Anna, Oom janji"

Setelah selesai mandi, Firman hanya mengenakan celana training sambil bertelanjang dada.

"Firman, kamu mulai saja pijatnya. Aku mandi dulu," kata Oom Win.

Dengan tampang masih kesal aku pun menuju ke kamar Oom win yang ternyata telah secara diam-diam dipersiapkan untuk pijat malam ini. Kamar itu telah dilengkapi dengan lilin-lilin yang ditata rapi berjajar diseluruh dinding ruangan; tidak lupa juga minyak tradisional untuk keperluan pijat.

Lumayan juga selera Oom Win, begitu pikirku. Kami pun masuk dan membiarkan pintu sedikit terbuka karena memang tidak ada orang lain lagi di rumah itu yang akan menganggu kegiatan kami. Firman merengkuh pinggangku sambil menuntunku ke tempat tidur Oom Win yang cukup lebar.

"Anna, saya hanyalah seorang pemijat, dan kalau kamu tidak keberatan, saya akan pijat kamu dalam keadaan bugil"

Firman pun meninggalkan aku memberi aku waktu untuk bersiap-bersiap sementara dia menunggu di luar kamar Oom Win. Dengan perasaan heran tapi demi memenuhi janji Oom Win dan membayangkan bahwa aku akan mendapat kepuasan dari Oom Win malam ini, aku pun cuek saja dan langsung melepaskan semua pakaianku dan mengambil handuk untuk menutupi bagian pinggulku ketika berbaring tengkurap.

Karena menunggu Firman terlalu lama, aku pun tertidur (karena suasana ruangan yang gelap temaram itu juga mendukung kantukku).

Setelah Firman memijatku beberapa lama, tenyata tanpa kusadari Oom win yang setelah selesai mandi hanya mengenakan kimono saja, duduk di kursi sambil melihat Firman yang sedang memijatku. Ketika aku terbangun, kurasakan lembutnya tangan Firman memijat-memijat kepalaku dan memang kuakui pijatannya professional sekali. Minyak yang digunakannya juga terasa segar di tubuh dan berbau enak.

Firman mengatur posisi tubuhku yang tengkurap sehingga kedua tanganku direntangkan ke arah samping. Setelah memijat kepalaku, Firman pun memijat leherku dan beranjak ke tanganku yang dimulai dari ujung-ujung jari. Kemudian tak beberapa lama, konsentrasinya beralih ke bagian samping tubuhku yang memang menantang karena tanganku terentang ke samping. Pertama-Pertama dituangkan nya minyak ke bagian samping bahuku sehingga cairan yang dingin menuruni susuku menuju kearah putingnya memang membuatku tersentak. Karena licinnya minyak itu, kadang-kadang tangannya mengena pentilku, dan itu membuatku semakin terangsang.

Setelah selesai dengan pungguku, Firman pun beralih ke ujung-ujung jari kakiku, dan pelan-pelan naik ke pahaku. Ketika disingkapkannya handuk yang menutupi bagian pinggulku, aku pun mengalami rangsangan yang terasa sangat erotis, mungkin karena dengan begitu aku bisa memamerkan memekku ke orang yang baru kukenal. Pijitannya di pahaku dilakukannya tanpa menyentuh memekku yang sudah mulai basah itu, dan itu membuatku sedikit kecewa.

Tetapi hal yang tak kusangka-kusangka terjadi ketika dia mulai sedikit demi sedikit menuangkan minyak ke belahan pantatku, otomatis aku menggelinjang dan meregangkan selangkanganku. Sebelum aku sempat untuk berpikir lebih jauh, Kedua tangannya yang bertumpuk satu sama lain telah mencakup semua memekku dan memijat-memijat nya. Kedua tangannya masuk lebih dalam untuk memijat perutku sehingga otomatis pergelangan tangannya yang memang penuh minyak itu mengurut-mengurut memekku dan kelentitku. Perasaan yang kurasakan luar biasa karena gerakan itu sekaligus membuat pusarku geli dan memekku seperti diusap-diusap.

Pelan namun pasti, Firman membalikkan badanku, dan langsung saja tangannya menuju ke payudaraku dengan pentil-pentil nya yang sudah mencuat tanda aku memang sudah terangsang hebat. Gerakan tangannya yang berputar-berputar itu ternyata tidak menyentuh pentilku sama sekali, dan itu membuatku semakin memajukan dadaku ke arahnya berharap agar Firman segera menyentil puncaknya yang sudah tidak dapat menunggu lebih lama lagi untuk disentuh. Firman pun tersenyum karena aku yakin bahwa dia pun tahu kalau aku ingin pentilku disentuhnya. Tak lama kemudian, harapanku menjadi kenyataan, tetapi bukan dengan jari-jari nya, Firman meletakkan telapak tangannya yang sudah licin itu tepat diatas kedua pentilku.

Dengan gerakan memutar-memutar, Firman "memijit" pentilku, semakin lama gerakannya semakin cepat dan semakin menekan susuku. Dengan berakhirnya gerakan itu pula aku melepaskan eranganku yang pertama tanda aku mencapai orgasmku yang pertama.

Bukannya menghentikannya, Firman malahan menyentil-menyentil pentilku dengan ujung-ujung jarinya, dan setelah pentilku menjadi keras kembali, Firman memasang alat perangsang berbentuk lingkaran di kedua pentilku. Ternyata alat itu dapat membuatku terangsang terus-menerus terlebih ketika aku bergerak-bergerak, terasa alat yang seperti cincin itu memberikan kegelian yang sangat di ujung pentilku sehingga kedua puncak itu tetap mencuat keras.

Pelan namun pasti, pijatannya beralih kearah perutku dan Firman mulai menjilat-menjilat pusarku yang ternyata amat merangsang birahiku. Kembali kurasakan cairan hangat mengalir melalui memekku yang pasti telah berkilat-berkilat karena banyaknya lendir yang keluar. Lama kelamaan, pijatannya turun ke bagian dibawah pusar dengan gerakan memutar, dan gerakan itu menambah banyaknya cairan yang keluar sampai akhirnya aku mencapai orgasme yang kedua. Betapa hebatnya pijatan-pijatan Firman ini yang ternyata tanpa disetubuhi pun aku bisa mendapatkan orgasme sampe dua kali.

Ketika aku belum reda dengan orgasmeku yang kedua kalinya, Firman membuka selangkanganku lebar-lebar dan merekahkan kedua bibir memekku dengan tangan kirinya. Kemudian dengan telapak tangan kanannya (ke empat jari-jarinya), dia mulai menepuk-menepuk pussyku yang terpampang lebar di depannya. Gerakan-Gerakan itu bermula dengan pelan, dan setiap kali "tamparan" nya mengenai bibirku yang sudah basah itu, aku tersentak-tersentak antara rasa kaget dan erotis.

Akhirnya, pukulan-pukulan kecil itu bertambah keras dan cepat seiring dengan aku mendapatkan sensasi yang luar biasa di rondeku yang ketiga. Aku orgasme hebat diselingi erangan-erangan ketika tamparannya mengenai memekku dengan cairan kentalnya yang mengalir deras sampai ke bongkahan pantatku.

Kemudian Firman memasangkan suatu alat yang aneh sekali di pinggangku, berupa sabuk dengan penis buatan yang berukuran sedang dengan permukaannya yang dipenuhi tonjolan-tonjolan yang tidak sama besarnya maupun tingginya. Keseluruhan alat itu berbentuk seperti ikat pinggang dengan celana dalam yang dilengkapi dengan penis mencuat kea rah dalam. Setelah agak reda, Firman memberiku segelas air putih sambil menunggu sampai aku agak tenang kembali, dan pelan-pelan memasukkan penis itu ke dalam lubang memekku dan memasangkan strap-strapnya ke pinggangku. Firman juga mengganjal pinggangku dengan tumpukan bantal sehingga penis itu yang telah dilumuri lubricant, dapat dengan mudah masuk ke lubang memekku.

Alat yang aneh itu ternyata memiliki remote control yang tidak terhubung dengan kabel sehingga tidak merepotkan pemakainya. Setelah dirasanya cukup siap, Firman melebarkan kakiku dengan memekku yang telah tertancap penis palsu itu. Kemudian, dia menekan tombol di remote control yang ternyata menyebabkan alat itu bergerak memutar pelan-pelan seakan-seakan menggaruk rahimku. Dan oleh gerakan itu, maka seluruh dinding rahimku kegelian.

"Argh, argh, hmph hmph.."
"Enak kan, Anna?"
"Oh, alat biadab, oh, oh, oh"

Di tengah-tengah permainan itu, Firman menambah getaran-getaran kecil di alat itu sehingga aku merasa melambung dibuatnya. Alat itu ternyata dapat pula mengeluarkan cairan dari bagian ujungnya, sehingga rahimku terasa disemprot-disemprot oleh cairan yang seolah-seolah terasa seperti cairan air mani.

"Oh, oh, Firman, Anna sudah mau keluar"

Dan seketika itu Firman menghentikan alat itu, dan tampak sekali di wajahku rasa kecewa yang amat sangat.

"Please Firman, Anna mau, Anna nggak tahan Firman, gerak-gerak in lagi Firman"

Bukannya menurutiku, Firman hanya senyum-senyum sendiri melihatku, dan aku pun tidak tahan akhirnya hanya memegang-memegang kelentitku saja. Tiba-Tiba Firman mengulurkan tangannya, dan mengajakku untuk berdiri.

"Aku akan turuti permintaanmu jika kamu mau melakukan syaratnya"
"Please, Firman apa aja akan aku lakuin"
"Kamu harus berjalan-berjalan di luar kamar ini dengan alat itu"
"Siapa takut, tapi please Firman, sudah tanggung tadi"

Karena cincin yang masih terpasang di pentil-pentil ku bergoyang-bergoyang setiap kali aku bergerak, maka aku pun mulai terangsang lagi. Kemudian aku pun melangkah keluar kamar dan mulai berjalan-berjalan. Tiba-Tiba kurasakan alat itu kembali beroperasi mengorek-mengorek isi rahimku, kakiku pun menjadi lemas karena sensasi yang kurasakan lebih hebat dengan posisi tubuhku yang berubah-berubah dan kedua kaki ku yang tetap kupaksakan melangkah menambah rangsangan di kelentitku dan memekku.

"Firman, Anna tidak kuat berjalan lagi, oh please" sambil berjalan terseok-terseok aku pun merintih-merintih.
"Ayo kamu teruskan atau alat itu kuhentikan"

Akhirnya aku hanya dapat menuruti kemauan Firman untuk terus berjalan-berjalan dengan alat yang semakin dasyat mengorek-mengorek rahimku dengan tonjolan-tonjolan nya itu. Ketika aku mencapai orgasmeku, Aku pun terjatuh lemas di sofa.

Kemudian, Firman menghentikan alat itu tepat ketika aku mencapai orgasmeku dan dengan hati-hati dia membereskan alat itu melepaskan nya dari pinggangku. Aku pun terkulai lemah untuk beberapa saat sebelum Firman akhirnya membopongku ke dalam kamar Oom Win dan merentangkan kedua pahaku untuk siap dimainkan oleh penis asli milik Oom Win yang sudah berdiri tegak mencuat itu.

"Thank you banget, Firman, aku sangat menikmati permainan ini. Sekarang kamu boleh pulang," kata Oom Sam sambil memberi Firman sejumlah uang.
"Oom, Anna sudah nggak kuat lagi Oom," dengan tampangku yang sudah pasrah demi melihat kemaluan Oom Win yang sudah berdiri.
"Oom hanya memenuhi janji Oom, Anna"

Malam itu, akhirnya aku tertidur kecapaian setelah mendapatkan empat kali orgasme lagi dengan Oom Win dari berbagai posisi. Keesokan harinya, aku terbangun dengan posisiku yang mengangkang lebar menantang.

TAMAT

Rabu, 29 Juli 2015

Istri Kiay yang semok

Istri Kiay yang semok



Didi mengenal seks pada usia 18 tahun ketika masih sekolah. Waktu itu karena Didi yang bandel dikampungnya maka ia dikirim ke sekolah yang ada Pondok Pesantrennya di Jawa barat, Didi lalu dititipkan pada keluarga teman baik ayahnya, seorang Kiayi Fuad begitu Didi memanggilnya ia adalah seorang yang cukup berpengaruh, pak Kiayi mengelola pesantren itu sendiri yang lumayan besar. Anak-anak mereka, Halmi dan Julia yang seusia Didi kini ada di Mesir sejak mereka masih berumur 12 tahun. Sedangkan yang sulung, Irfan kuliah di Pakistan


Istri Kiayi Fuad sendiri adalah seorang pengajar di sekolah dasar negeri di sebuah kecamatan. Didi memanggilnya Nyai Fifi, wanita itu berwajah manis dan berumur 40 tahun dengan perawakan yang bongsor dan seksi khas ibu-ibu istri pejabat. Sejak tinggal di rumah Kiayi Fuad Didi seringkali ditugasi mengantar Nyai Fifi, meskipun hanya untuk pergi ke balai desa atau pergi kota Kabupaten.


Meski keluarga Kiayi Fuad cukup kaya raya dan terpandang namun tampaknya hubungan antara dia dan istrinya tak begitu harmonis. Didi sering mendengar pertengkaran-pertengkaran diantara mereka di dalam kamar tidur Kiayi Fuad, seringkali saat Didi menonton televisi terdengar teriakan mereka dari ruang tengah. Sedikitpun Didi tak mau peduli atas hal itu, toh ini bukan urusannya, lagi pula Didi kan bukan anggota keluarga mereka. Biasanya mereka bertengkar malam hari saat penghuni rumah yang lain telah terlelap tidur, dan belakangan bahkan terdengar kabar kalau Kiayi Fuad ada mempunyai wanita lain sebagai isteri simpanan.

“Ah untuk apa aku memikirkannya” bisik hati Didi.
“Biar saja Kiayi Fuad berpoligami yang penting aku dapat beronani sambil membayangkan tubuh bahenol Nyai Fifi, dan sekali kali ingin juga aku menyetubuhi isterinya pak Kiayi Fuad yang cantik itu”. “Busyeeeet pikiran kotorku mulai kambuh lagi, Aah masa bodoh emang aku pikirin he heeeeee.”
Suatu hari di bulan Oktober, Bi Tinah, seorang pembantu dan Mang Darta penjaga pesantren juga pulang kampung mengambil jatah liburan mereka bersamaan saat Lebaran. Sementara Kiayi Fuad pergi berlibur ke Mesir sambil menjenguk kedua anaknya di sana. Nyai Fifi masih sibuk menangani tugas-tugas sekolahan yang mana para muridnya hendak menghadapi ujian, Nyai Fifi lebih sering terlambat pulang, hingga di rumah itu tinggal Didi sendiri. Perasaan Didi begitu merdeka, tak ada yang mengawasi atau melarangnya untuk berbuat apa saja di rumah besar disamping pesantren. Mereka meminta Didi menunda jadwal pulang kampung yang sudah jauh hari direncanakan, dan Didi mengiyakan saja, toh mereka semua baik dan ramah padanya.
Malam itu Didi duduk di depan televisi, namun tak satupun acara TV itu menarik perhatiannya. Didi termenung sejenak memikirkan apa yang akan diperbuatnya, sudah tiga hari tiga malam sejak keberangkatan Kiayi Fuad ke Mesir, Nyai Fifi tak tampak pulang ke rumah hingga sore hari. Maklumlah ia harus bolak balik ke kabupaten mengurus soal ujian sekolah dikantor Dinas Pendidikan, jadi tak heran kalau mungkin saja hari ini ia ada di kota kabupaten, saat sedang melamun Didi melirik ke arah lemari besar di samping pesawat TV layar lebar itu. Matanya tertuju pada rak piringan VCD yang ada di sana. Dan dalam hati Didi penuh dengan tanda tanya. Dalam hati Didi berbisik

“Segera kubuka sajalah mana tahu ada film bagus untuk ditonton,” sambil memilih film-film bagus yang ada disitu yang paling membuat aku menelan ludah adalah sebuah film dengan cover depannya ada gambar wanita telanjang.
Tak kulihat lama lagi pasti dari judulnya aku sudah tahu langsung kupasang dan..,
“Wow!” batinku kaget begitu melihat adegannya yang membangkitkan nafsu.
Seorang lelaki berwajah Arab sedang menggauli dua perempuan sekaligus dengan beragam gaya.

Sesaat kemudian aku sudah larut dalam film itu. Penisku sudah sejak tadi mengeras seperti kayu, malah saking kerasnya terasa sakit, aku sejenak melepas celana panjang dan celana dalam yang kukenakan dan menggantinya dengan celana pendek yang longgar tanpa CD. Aku duduk di sofa panjang depan TV dan kembali menikmati adegan demi adegan yang semakin membuatku gila. Malah tanganku sendiri meremas-remas batang kemaluanku yang semakin tegang dan keras. Tampak penis besarku yang panjang sampai menyembul ke atas melewati pinggang celana pendek yang kupakai. Cairan kentalpun sudah terasa akan mengalir dari sana.



Tapi belum lagi lima belas menit, karena terlalu asyik aku akan sampai tak menyangka Nyai Fifi isteri Kiayi Fuad sudah berada di luar ruang depan sambil menekan bel. Ah, aku lupa menutup pintu gerbang depan hingga Nyai Fifi bisa sampai di situ tanpa sepengetahuanku, untung pintu depan terkunci. Aku masih punya kesempatan mematikan power off VCD Player itu, dan tentunya sedikit mengatur nafas yang masih tegang ini agar sedikit lega. Aku tidak menyangka Nyai Fifi yang seorang guru dan isteri seorang Kiayi punya koleksi VCD porno atau VCD itu hasil rampasan dari tangan para santri-santri yang bengal yang kedapatan menyelundupkan VCD porno tsb ke dalam pondok pesantren. Karena rata-rata para santri yang ada dipondok pesantren itu adalah para korban Narkoba.

Seketika timbul penyakit bengal ku, karena kenakalanku sewaktu dikampung aku ketahuan mengintip isteri tetangga yang sedang mandi sebab kenakalan itu aku dititipkan oleh ayahku pada keluarga Kiayi Fuad di Tasikmalaya di kota kecil di daerah Jawa Barat, sementara asalku dari pulau Sumatera. Dan aku sering memangil isteri pak Kiayi itu dengan sebutan tante Fifi dan terkadang juga kupanggil perempuan cantik itu dengan panggilan Nyai Fifi karena dia adalah isteri seorang Kiayi terpandang dan sangat kaya karena memiliki berhektar-hektar sawah dan kebun buah-buahan.
“Kamu belum tidur, Di??”, sapanya begitu kubuka pintu depan.
“Belum, Nyai”, hidungku mencium bau khas parfum Tante Fifi yang elegan.
“Udah makan?”.
“Hmm.., belum sih, tante sudah makan?”, aku mencoba balik bertanya.
“Belum juga tuh, tapi tante barusan dari rumah teman, trus di jalan baru mikirin makan, so tante pesan dua kotak nasi goreng, kamu mau?”.
“Mau dong tante, tapi mana paketnya, belum datang kan?”.
“Tuh kan, kamu pasti lagi asyik di kamar makanya nggak dengerin kalau pengantar makanannya datang sedikit lebih awal dari tante”.
“Ooo”, jawabku bego.
Nyai Fifi berlalu masuk kamar, kuperhatikan ia dari belakang. Uhh, bodinya betul-betul bikin deg-degan, atau mungkin karena aku baru saja nonton BF yah.
“Ayo, kita makan..”, ajaknya kemudian, tiba-tiba ia muncul dari kamarnya sudah berganti pakaian dengan sebuah daster bermotif bunga-bunga yang longgar tanpa lengan dan berdada rendah.

Mungkin Nyai Fifi merasa kegerahan setelah memakai baju panjang dan rambutnya selalu tertutup jilbab seharian. Penampilan khas perempuan cantik itu sebagai isterinya pak Kiayi, bila ia berada diluar rumah mesti memakai pakaian yang menutupi seluruh tubuhnya. Walaupun sekujur tubuhnya tertutup baju panjang dan jilbab masih nampak seksi dan anggun, malam itu benar-benar membuatku jadi terpana dan bergairah ingin memeluk tubuhnya.

“Ya ampun Nyai Fifi”, batinku berteriak tak percaya, baru kali ini aku memperhatikan wanita itu dalam keadaan tidak memakai jilbab dan baju panjangnya.
Kulitnya putih bersih, dengan betis yang woow, berbulu menantang pastilah perempuan cantik ini punya nafsu seksual yang liar, itu kata temanku yang pengalaman seksnya tinggi. Buah dadanya tampak menyembul dari balik gaun tidur itu, apalagi saat ia melangkah di sampingku, samar-samar dari sudut mataku terlihat indah payudaranya yang putih lembut.
“Uh.., apa ini gara-gara film itu?”, batinku lagi.

Khayalanku mulai kurang ajar, atau selama ini aku melihat Nyai Fifi selalu memakai jubah panjang dan berjilbab jadi aku tidak tahu bentuk tubuhnya yang sebenarnya, seketika aku memasukkan bayangan Nyai Fifi ke dalam adegan film tadi.

“Hmm..”, tak sadar mulutku mengeluarkan suara itu.
“Ada apa, Di?”, isteri pak Kiayi itu memandangku dengan alis berkerut.
“Nngg.., nggak apa-apa Nyai..”, Aku jadi sedikit gugup. Oh wajahnya, kenapa baru sekarang aku melihatnya begitu cantik.
“Eh.., kamu ngelamun yah, ngelamunin siapa sih? Pacar?”, tanyanya.
“Nggak ah tante”, dadaku berdesir sesaat pandangan mataku tertuju pada belahan dadanya.
Wow serasa hendak jebol celana yang kupakai oleh desakan penisku yang memberontak tegang.
“Oh My god, gimana rasanya kalau tanganku sampai mendarat di permukaan buah dadanya, mengelus, merasakan kelembutan payudara itu, oohh” lamunan itu terus merayap melambung tinggi.
“Heh, ayo.., makanmu lho, Di”.
“Ba.., bbaik Nyai”, jelas sekali aku tampak gugup.
“Nggak biasanya kamu kayak gini, Di. Mau cerita nggak sama tante Fifi”.
“Oh my god, dia mau aku ceritakan apa yang aku lamunkan? Susumu itu Nyai, susumu yang tergantung indah aku remas-remas ya” bisik hatiku, aku mulai berfikir bagaimana bisa menyetubuhi isteri Kiayi Fuad yang montok dan cantik ini.
Pelan-pelan sambil terus melamun sesekali berbicara padanya, akhirnya makananku habis juga. Aku kembali ke kamar dan langsung menghempaskan badanku ke tempat tidur. Masih belum lepas juga bayangan tubuh Nyai Fifi.
“Gila! Gila! Kenapa perempuan paruh baya itu membuatku gila”, pikirku tak habis-habisnya.
Umurnya terpaut sangat jauh denganku, aku baru 18 tahun.., dua puluh lima tahun dibawahnya. Ah, mengapa harus kupikirkan, persetan ah yang penting bagaimana caranya aku dapat menikmati tubuh montoknya.
Aku melangkah ke kamarku dan berbaring ditempat tidur, mencoba melupakannya, tapi mendadak pintu kamarku diketuk dari luar.
“Di.., Didi.., ini Tante Fi”, terdengar suara tante Fifi yang seksi itu memanggil.
“Ah..”, aku beranjak bangun dari ranjang dan membukakan pintu,
“Ada apa, tante?”.
“Kamu bisa buatin tante kopi?”.
“Ooo.., bisa tante”.
“Tahu selera tante toh?”
“Iya tante, biasanya juga saya lihat Bi Tinah”, jawabku singkat dan langsung menuju ke dapur.
“Tante tunggu di ruang tengah ya, Di”.
“Baik, tante”.
“Didi..?”
“Ya.., tante”.
“Kamu kalau habis pasang film seperti ini lain kali masukin lagi ke tempatnya yah”.
“Mmm.., ma.., ma.., maaf tante..” aku tergagap, apalagi melihat Tante Fifi isteri pak kiayi itu yang berbicara tanpa melihat ke arahku.
Benar-benar aku merasa seperti maling yang tertangkap basah.
“Di..?”, Tante Fifi memanggil dan kali ini ia memandangi, aku menundukkan muka, tak kubayangkan lagi kemolekan tubuh istri Kiayi Fuad itu.
Aku benar-benar takut bercampur dengan nafsu.
“Tante nggak bermaksud marah lho, Di..”,
Byarr hatiku lega lagi.?
“Sekarang kalau kamu mau nonton, ya sudah sama-sama aja di sini, toh sudah waktunya kamu belajar tentang ini, biar nggak kuper”, ajaknya.
“Woow..”, kepalaku secepat kilat kembali membayangkan tubuhnya.
Aku duduk di sofa sebelah tempatnya. Mataku lebih sering melirik tubuh Tante Fifi daripada film itu.
“Kamu kan sudah 18 tahun, Di. Ya nggak ada salahnya kalau nonton beginian. Lagipula tante kan nggak biasa lho nonton yang beginian sendiri..”.

Tak kusangka ucapan isteri Kiayi Fuad begitu terang-terangan, padahal Nyai Fifi adalah seorang pendidik alias guru apakah karena dunia ini sudah semakin tua, atau isteri Kiayi itu yang nampaknya alim namun sesungguhnya memiliki nafsu syahwat besar yang tak tersalurkan.
Apa kalimat itu berarti undangan? Atau kupingku yang salah dengar? Oh my god Tante Fifi mengangkat sebelah tangannya dan menyandarkan lengannya di sofa itu. Dari celah gaun di bawah ketiaknya terlihat jelas bukit payudaranya yang masih seger dan bentuknya indah. Ukurannya benar-benar membuatku menelan ludah. Wooow. Posisi duduknya berubah, kakinya disilangkan hingga daster itu sedikit tersingkap. Yeah, betis indah dengan bulu-bulu halus, Hmm? Wanita 40-an itu benar-benar menantang, wajah dan tubuhnya mirip sekali dengan Marisa Haque, hanya Tante Fifi kelihatan sedikit lebih muda, bibirnya lebih sensual dan hidungnya lebih mancung. Aku tak mengerti kenapa perempuan paruh baya ini begitu tampak mempesona di mataku. Tapi mungkinkah..? Tidak, dia adalah istri seorang Kiayi yang terpandang, orang yang belakangan ini sangat memperhatikanku. Aku di sini untuk belajar.., atas biaya mereka.., ah persetan!
Tante Fifi mendadak memindahkan acara TVRI ke sebuah TV swasta.
“Lho.. kok?”.
“Ah tante bosan ngeliatin acara di TV itu terus, ..”.
“Tapi kan..”.
?Sudah kalau mau kamu mau nonton yang lain nonton aja sendiri di kamar..” wajahnya masih biasa saja.
“Eh, ngomong-ngomong, kamu sudah hampir setahun di sini yah?”.
“Iya tante..”.
“Sudah punya pacar?”, ia beranjak meminum kopi yang kubuatkan untuknya.
“Belum”, mataku melirik ke arah belahan daster itu, tampaknya ada celah yang cukup untuk melihat payudara besarnya.
Tak sadar penisku mulai berdiri.
“Kamu nggak nyari gitu?”, ia mulai melirik sesekali ke arahku sambil tersenyum.
“Alamaak, senyumnya.., oh singkapan daster bagian bawah itu, uh Tante Fifi.., pahamu”, teriak batinku saat tangannya tanpa sengaja menyingkap belahan gaun di bagian bawah itu. Sengaja atau tidak sih?
“Eeh Di.kamu ngeliatin apaan sih?”.
Blarr.., mungkin ia tahu kalau aku sedang berkonsentrasi memandang satu persatu bagian
“Nnggak kok tante nggak ngeliat apa-apa”.
“Lho mata kamu kayaknya mandangin tante terus. Apa ada yang salah sama tante, Di?”,
Yya ampun dia tahu kalau aku sedang asyik memandanginya.
“Eh.., mm.., anu tante.., aa.., aanu.., tante.., tante”, kerongkonganku seperti tercekat.
“Anu apa.., ah kamu ini ada-ada saja, kenapa..?”, matanya semakin terarah pada selangkanganku, sial aku lupa pakai celana dalam.
Pantas Tante Fifi tahu kalau penisku tegang.
“Ta.., ta.., tante cantik sekali..”, aku tak dapat lagi mengontrol kata-kataku.
Dan astaga, bukannya marah, Tante Fifi malah mendekati aku.
“Apa.., tante nggak salah dengar?”, katanya setengah berbisik.
“Bener kok tante..”.
“Tante yang seumur ini kamu bilang cantik, ah bisa aja. Atau kamu mau sesuatu dari tante?” ia memegang pundakku, terasa begitu hangat dan duh gusti buah dada yang sejak tadi kuperhatihan itu kini hanya beberapa sentimeter saja dari wajahku.
Apa aku akan dapat menyentuhnya, come on man! Dia istri pemilik pondok pesantren ini batinku berkata?Aah persetan.

Tangannya masih berada di pundakku sebelah kiri, aku masih tak bergeming. Tertunduk malu tanpa bisa mengendalikan pikiranku yang berkecamuk. Harum semerbak parfumnya semakin menggoda nafsuku untuk segera berbuat sesuatu. Kuberanikan mataku melirik lebih jelas ke arah belahan kain daster berbunga itu. Wow.., sepintas kulihat bukit di selangkangannya yang ahh, kembali aku menelan ludah.
“Kamu belum jawab pertanyaan tante lho, Di. Atau kamu mau tante jawab sendiri pertanyaan ini?”.
“Nggak kok Nyai, ss.., ss.., saya jujur kalau tante memang cantik, eh.., mm.., dan menarik”.
“Terus apa lagi ayo bilang..”
“Aaaku mau pegang susu Nyai.” kuberanikan diriku sambil menatap kedua bola matanya yang indah itu.
“Kamu belum pernah kenal cewek yah”.
“Belum, tante”.
“Kalau tante kasih pelajaran gimana?”.
Ini dia yang aku tunggu, ah persetan walau dia ini isteri Kiayi Fuad sahabat ayahku aku tak perduli. Anggap saja ini pelajaranku dari Tante Fifi. Dan juga.., oh aku ingin segera merasakan tubuh wanita cantik ini.
“Maksud tante.., apa?”, lanjutku bertanya, pandangan kami bertemu sejenak namun aku segera mengalihkan.
“Kamu kan belum pernah pacaran nih, gimana kalau kamu tante ajarin caranya menikmati wanita..”.
“Ta.., tapi tante”, aku masih ragu.
“Kamu takut sama pak Kiayi suamiku? Tenang.., yang ada di rumah ini cuman kita, lho”.
“Wow hebat”, teriakku dalam hati.
Pucuk dicinta ulam pun tiba. Batinku terus berteriak tapi badanku seperti tak dapat kugerakkan. Beberapa saat kami berdua terdiam.
“Coba sini tangan kamu”, aku memberikan tanganku padanya, my goodness tangan lembut itu menyentuh telapak tanganku yang kasarnya minta ampun.
“Rupanya kamu memang belum pernah nyentuh perempuan, Di. Tante tahu kamu baru beranjak remaja dan tante ngerti tentang itu”, ia berkata begitu sambil mengelus punggung tanganku, aku merinding dibuatnya.
Sementara di bawah penisku yang sejak tadi sudah tegang itu mulai mengeluarkan cairan hingga menampakkan titik basah tepat di permukaan celana pendek itu.
“Tante ngerti kamu terangsang melihat tetek ini, dan tante perhatiin belakangan ini kamu sering diam-diam memandangi tubuh tante, benar kan?”, ia seperti menyergapku dalam sebuah perangkap, tangannya terus mengelus punggung telapak tanganku.
Aku benar-benar merasa seperti maling yang tertangkap basah, tak sepatah kata lagi yang bisa kuucapkan.
“Kamu kepingin pegang dada tante kan?”.
Daarr! Dadaku seperti pecah.., mukaku mulai memerah. Aku sampai lupa di bawah sana adik kecilku mulai melembek turun. Dengan segala sisa tenaga aku beranikan diri membalas pandangannya, memaksa diriku mengikuti senyum Nyai Fifi isteri pak Kiayi itu, Dan.., astaga.., perempuan cantik ini menuntun telapak tanganku ke arah payudaranya yang menggelembung besar itu. Oooh lembutnya.
“Ta.., ta.., tante.., oohh”, suara itu keluar begitu saja dari bibirku, dan Tante Fifi hanya melihat tingkahku sambil tersenyum.

Adikku bangun lagi dan langsung seperti ingin meloncat keluar dari celana dalamku. Istri pak Kiayi itu melotot ke arah selangkanganku.
“Waawww.., besar sekali punya kamu Di”, serunya lalu secepat kilat tangannya menggenggam kemaluanku kemudian mengelus-elusnya.

Secara reflek tanganku yang tadinya malu-malu dan terlebih dulu berada di permukaan buah dadanya bergerak meremas dengan sangat kuat sampai menimbulkan desah dari mulutnya.
“Aaagghhh… enaaaak, isep Di… Ooooooooh… aahh.., mm remas sayang oohh… teruuuuuuuus Di.”

Masih tak percaya akan semua itu, aku membalikkan badan ke arahnya dan mulai menggerakkan tangan kiriku. Aku semakin berani, kupandangi wajah istri pak Kiayi itu dengan seksama.
“Teruskan, Di.., buka baju tante”, perempuan itu mengangguk pelan.

Matanya berbinar saat melihat kemaluanku tersembul dari celah celana pendek itu. Kancing dasternya kulepas satu persatu, bagian dadanya terbuka lebar. Masih dengan tangan gemetar aku meraih kedua buah dadanya yang putih itu. Perlahan-lahan aku mulai meremasnya dengan lembut, kedua telapak tanganku kususupkan melewati dasternya.

“Mmm.., tante..”, aku menggumam merasakan kelembutan buah dada besar Tante Fifi yang selama sebulan terakhir ini hanya jadi impianku saja.
Jari jemariku terasa begitu nyaman, membelai lembut daging kenyal itu, aku memilin puting susunya yang begitu lembutnya.
Aku pun semakin berani, dasternya kutarik ke atas dan woowww.., kedua buah dada itu membuat mataku benar-benar jelalatan.
“Mm.., kamu sudah mulai pintar, Di. Tante mau kamu..”, belum lagi kalimat Tante Fifi habis aku sudah mengarahkan mulutku ke puncak bukit kembarnya dan
“Crupp..”, sedotanku langsung terdengar begitu bibirku mendarat di permukaan puting susunya.
“Aahh.., Didi, oohh.., sedoot teruus aahh”, tangannya semakin mengeraskan genggamannya pada batang penisku, celana pendekku sejak tadi dipelorotnya ke bawah.
Sesekali kulirik ke atas sambil terus menikmati puting buah dadanya satu persatu, Tante Fifi tampak tenang sambil tersenyum melihat tingkahku yang seperti monyet kecil menetek pada induknya. Jelas isteri pak Kiayi itu sudah berpengalaman sekali. Batang penisku tak lagi hanya diremasnya, ia mulai mengocok-ngocoknya. Sebelah lagi tangannya menekan-nekan kepalaku ke arah dadanya.

“Buka pakaian dulu, Di” ia menarik baju kaos yang kukenakan, aku melepas gigitanku pada puting buah dadanya, lalu celanaku di lepaskannya.
Ia sejenak berdiri dan melepas gaun dasternya, kini aku dapat melihat tubuh Nyai Fifi yang bahenol itu dengan jelas. Buah dada besar itu bergelantungan sangat menantang. Dan bukit di antara kedua pangkal pahanya masih tertutup celana dalam putih, bulu-bulu halus tampak merambat keluar dari arah selangkangan itu. Dengan agresif tanganku menjamah CD-nya, langsung kutarik sampai lepas.
“Eeeiit.., ponakan tante sudah mulai nakal yah”, katanya genit semakin membangkitkan nafsuku.
“Saya nggak tahan ngeliat tubuh tante”, dengusanku masih terdengar semakin keras.
“Kita lakukan di kamar yuk..”, ajaknya sambil menarik tanganku yang tadinya sudah mendarat di permukaan selangkangannya.
“Shitt!” makiku dalam hati, baru saja aku mau merasakan lembutnya bukit di selangkangannya yang mulai basah itu.
Isteri pak Kiayi itu langsung merebahkan badan di tempat tidur. Tapi mataku sejenak tertuju pada foto pak Kiayi yang pakai sorban dengan baju kokonya.
“Ta.., tapi tante”
“Tapi apa, ah kamu, Di” Tante Fifi melotot.
“Tante kan istri pak Kiayi”.
“Yang bilang tante istri kamu siapa?”, aku sedikit kendor mendengarnya.
“Saya takut tante, malu sama pak Kiayi”.
“Emangnya di sini ada kamera yang bisa dilihat dari Mesir sana? Didi, Didi.., Kamu nggak usah sebut nama pak Kiayi itu lagi deh!” intonasi suaranya meninggi, mungkin Nyai yang cantik ini sudah sangat benci kepada suaminya yang mempunyai isteri lagi, perempuan cantik ini memang dimadu oleh pak Kiayi sampai rasa benci terhadap suaminya ia lampiaskan dengan jalan menggiring gairah nafsuku untuk menyetubuhinya.
“Trus gimana dong tante?”, aku tambah tak mengerti.
“Sudahlah Di, kamu lakukan saja, kamu sudah lama kan menginginkan memegang payudara tante?” aku tak bisa menjawab, sementara mataku kembali memandang selangkangan Tante Fifi yang kini terbuka lebar.
Hmm, persetan dari mana dia tahu aku sudah menantikan ini, itu urusan belakang.
Aku langsung menindihnya, dadaku menempel pada kedua buah payudara itu, kelembutan buah dada yang dulunya hanya ada dalam khayalanku saat beronani sekarang menempel ketat di dadaku. Bibir kamipun kini bertemu, Nyai Fifi menyedot lidahku dengan lembut. Uhh, nikmatnya, tanganku menyusup di antara dada kami, meraba-raba dan meremas kedua belahan susunya yang besar itu.
“Aggggh, Di kamu anak yang pintar teruuuus Di.”
“Mmm.., oohh.., Nyai.., aahh”, kegelian bercampur nikmat saat Tante Fifi memadukan kecupannya di leherku sambil menggesekkan selangkangannya yang basah itu pada penisku.

“Kamu mau sedot susu tante lagi?”, tangannya meremas sendiri buah dada itu, aku tak menjawabnya, bibirku merayap ke arah dadanya, bertumpu pada tangan yang kutekuk sambil berusaha meraih susunya dengan bibirku.
Lidahku mulai bekerja dengan liar menjelajahi bukit kenyal itu senti demi senti.
“Hmm.., pintar kamu Di, oohh..” desahan isteri pak Kiayi mulai terdengar, meski serak-serak tertahan nikmatnya jilatanku pada putingnya yang lancip.
“Sekarang kamu ke bawah lagi sayang..”.
Aku yang sudah terbawa nafsu berat itu menurut saja, lidahku merambat cepat ke arah pahanya, Tante Fifi membukanya lebar dan semerbak aroma selangkangannya semakin mengundang birahiku, aku jadi semakin gila. Kusibak bulu-bulu halus dan lebat yang menutupi daerah vaginanya. Uhh, liang vagina itu tampak sudah becek dan sepertinya berdenyut, aku ingat apa yang harus kulakukan, tak percuma aku sering diam-diam nonton VCD porno sewaktu di Sumatera. Lidahku menjulur lalu menjilati vagina isteri pak Kiayi itu.
“Aggggggh ampuuuuuun, Ooouuhh.., kamu cepat sekali belajar, Di. Hmm, enaknya jilatan lidah kamu.., oohh ini sayang”, ia menunjuk sebuah daging yang mirip biji kacang di bagian atas kemaluannya, aku menyedotnya keras, lidah dan bibirku mengaduk-aduk isi liang vaginanya.
“Ooohh, yaahh.., enaak, Di, pintar kamu Di.., oohh”, Tante Fifi mulai menjerit kecil merasakan sedotanku pada biji kacangnya yang belakangan kutahu bernama clitoris
Ada sekitar tujuh menit lebih aku bermain di daerah itu sampai kurasakan tiba-tiba ia menjepit kepalaku dengan keras di antara pangkal pahanya, aku hampir-hampir tak dapat bernafas.
“Aahh.., tante nggak kuaat aahh, Didii”, teriaknya panjang seiring tubuhnya yang menegang, tangannya meremas sendiri kedua buah dadanya yang sejak tadi bergoyang-goyang, dari liang vaginanya mengucur cairan kental yang langsung bercampur air liur dalam mulutku.
“Uff.., Di, kamu pintar bener. Sering ngentot yah?” ia memandangku dengan genit.
“Makasih Di, selama ini tante nggak pernah mengalaminya.., makasih sayang. Sekarang beri tante kesempatan istirahat sebentar saja”, ia lalu mengecupku dan beranjak ke arah kamar mandi.

Aku tak tahu harus melakukan apa, senjataku masih tegang dan keras, hanya sempat mendapat sentuhan tangan Tante Fifi. Batinku makin tak sabar ingin cepat menumpahkan air maniku ke dalam vaginanya. Masih jelas bayangan tubuh telanjang isteri pak Kiayi itu beberapa menit yang lalu.., ahh aku meloncat bangun dan menuju ke kamar mandi. Kulihat perempuan paruh baya yang cantik itu sedang mengguyur tubuhnya dengan air.
“Tante… mau saya entot sekarang?”
“Hmm, kamu sudah nggak sabar ya?” ia mengambil handuk dan mendekatiku.
Tangannya langsung meraih batang penisku yang masih tegang.
“Woowww.., tante baru sadar kalau kamu punya segede ini, Di.., oohhmm”, ia berjongkok di hadapanku.
Aku menyandarkan tubuh di dinding kamar mandi itu dan secepat kilat Nyai Fifi memasukkan penisku ke mulutnya.
“Ohh.., nikmat Tante Fifi oohh.., oohh.., ahh”, geli bercampur nikmat membuatku seperti melayang.
Baru kali ini punyaku masuk ke dalam mulut perempuan, ternyata.., ahh.., lezatnya setengah mati. Penisku tampak semakin tegang, mulut mungil Tante Fifi hampir tak dapat lagi menampungnya. Sementara tanganku ikut bergerak meremas-remas payudaranya.
“Uuuhh.. punya kamu ini lho, Di.., tante jadi nafsu lagi nih, yuk kita lanjutin lagi”, tangannya menarikku kembali ke tempat tidur, Tante Fifi seperti melihat sesuatu yang begitu menakjubkan.

Perempuan setengah baya itu langsung merebahkan diri dan membuka kedua pahanya ke arah berlawanan, mataku lagi-lagi melotot ke arah belahan vaginanya. Mm.., kusempatkan menjilatinya semenit lalu dengan tergesa-gesa aku tindih tubuhnya.
“Heh.., sabar dong, Di. Kalau kamu gelagapan gini bisa cepat keluar nantinya”.
“Keluar apa, Tante?”.
“Nanti kamu tahu sendiri, deh” tangannya meraih penisku di antara pahanya, kakinya ditekuk hingga badanku terjepit diantaranya.
Pelan sekali ibu jari dan telunjuknya menempelkan kepala penisku di bibir kemaluannya.
“Sekarang kamu tekan pelan-pelan sayang.., Ahhooww, yang pelan sayang oh punya kamu segede kuda tahu!”, liriknya genit saat merasakan penisku yang baru setengah masuk itu.
“Begini tante?”, dengan hati-hati kugerakkan lagi, pelan sekali, rasanya seperti memasuki lubang yang sangat sempit.
“Tarik dulu sedikit, Di.., yah tekan lagi. Pelan-pelan.., yaahh masuk sayang oohh besarnya punya kamu.., oohh… Oooh enaaak Di, Aaaagggh panjangnya punya kamu sampai mentok ke dasar Di.
“Tante suka?”.
“Nyai aku entot ya… Gimana Nyai rasanya?”.
“Suka sayang oohh, sekarang kamu goyangin.., mm.., yak gitu terus tarik, aahh.., pelan sayang vagina tante rasanya.., oouuhh mau robek, mmhh.., yaahh tekan lagi sayang.., oohh.., hhmm.., enaakk.., oohh”.
“Kalau sakit bilang saya yah tante?”, kusempatkan mengatur gerakan, tampaknya Tante Fifi sudah bisa menikmatinya, matanya terpejam seraya menggigit bibirnya disertai desahan manjanya.
“Oooh Di setubuhi tante, Agggggh enaaaak Di punyamu besaaaar. Hmm.., oohh..”, Tante Fifi kini mengikuti gerakanku.
Pinggulnya seperti berdansa ke kiri kanan. Liang vaginanya bertambah licin saja. Penisku kian lama kian lancar, kupercepat goyanganku hingga terdengar bunyi selangkangannya yang becek bertemu pangkal pahaku.
Plak.., plak.., plak.., plak.., aduh nikmatnya perempuan setengah baya ini.

Mataku merem melek memandangi wajah keibuan Tante Fifi yang masih saja mengeluarkan senyuman. Nafsuku semakin jalang, gerakanku yang tadinya santai kini tak lagi berirama. Buah dadanya tampak bergoyang ke sana ke mari, mengundang bibirku beraksi.
“Ooohh sayang kamu buas sekali. hmm.., tante suka yang begini, oohh.., genjot terus mm”.
“Uuhh tante nikmat tante.., mm tante cantik sekali oohh… Oooh enaknya ngentotin isteri pak Kiayi.” Aku mulai meracau nikmat.
“Kamu senang susu tante yah?” Ooohh sedoot teruus susu tantee aahh.., panjang sekali peler kamu oohh, Didii.., aahh”. Jeritannya semakin keras dan panjang, denyutan vaginanya semakin terasa menjepit batang penisku yang semakin terasa keras dan tegang.
“Di..?”, dengusannya turun naik.
“Yah uuhh ada apa tante..?”.
“Kamu bener-bener hebat sayang.., oowww.., uuhh.., tan.., tante.., mau keluar hampiirr.., aahh..”, gerakan pinggulnya yang liar itu semakin tak karuan, tak terasa sudah lima belas menit kami berkutat.
“Ooohh memang enaak Nyai, oohh.., Tante Fifi. Tante Fifi, oohh.., tante, oohh.., nikmat sekali tante memekmu, oohh..” aku bahkan tak mengerti apa maksud kata ‘keluar’ itu.
Aku hanya peduli pada diriku, kenikmatan yang baru pertama kali kurasakan seumur hidup. Tak kuhiraukan tubuh isteri pak Kiayi yang menegang keras berkejat-kejat, kuku-kuku tangannya mencengkeram punggungku, pahanya menjepit keras pinggangku yang sedang asyik turun naik itu,
“Aaahh.., Di.., dii.., tante ke..luaarr laagii.., aahh”, vagina Tante Fifi terasa berdenyut keras sekali, seperti memijit batangan penisku dan uuhh ia menggigit pundakku sampai kemerahan.
Kepala penisku seperti tersiram cairan hangat di dalam liang rahimnya.
“Agggh Oooh ampuuuun enak Di penis besarmu”.
Sesaat kemudian ia lemas lagi. Tak kusangka isteri seorang Kiayi, wanita yang kuanggap alim dan terpelajar saat kusetubuhi bisa menjadi liar bagai penari erotis, tubuhnya meliuk liuk saat mencapai orgasme.
“Tante capek’
“Maaf tante kalau saya keterlaluan..”.
“Mmm.., nggak begitu Di, yang ini namanya tante orgasme, bukan kamu yang salah kok, justru kamu hebat sekali.., ah, ntar kamu tahu sendiri deh.., kamu tunggu semenit aja yah, uuhh hebat”.
Aku tak tahu harus bilang apa, penisku masih menancap di liang kemaluannya.
“Kamu peluk tante dong, mm”.
“Ahh tante, saya boleh lanjutin nggak sih?”.
“Boleh, asal kamu jangan goyang dulu, tunggu sampai tante bangkit lagi, sebentaar aja. Mainin susu tante saja ya”.
“Baik tante..”.
“Kau tak sabar ingin cepat-cepat merasakan nikmatnya ‘keluar’ seperti Tante ya.”

Ia masih diam saja sambil memandangiku yang sibuk sendiri dengan puting susu itu. Beberapa saat kemudian kurasakan liang vaginanya kembali bereaksi, pinggulnya ia gerakkan.
“Di..?”.
“Ya tante?”.
“Sekarang tante mau puasin kamu, kasih tante yang di atas ya, sayang.., mmhh, pintar”.
Posisi kami berbalik. Kini isteri pak Kiayi menunggangi tubuhku. Perlahan tangannya kembali menuntun batang penisku yang masih tegang itu memasuki liang kenikmatannya, dan uuhh terasa lebih masuk.
Tante Fifi mulai bergoyang perlahan, payudaranya tampak lebih besar dan semakin menantang dalam posisi ini. Tante Fifi berjongkok di atas pinggangku menaik-turunkan pantatnya, terlihat jelas bagaimana penisku keluar masuk liang vaginanya yang terlihat penuh sesak, sampai bibir kemaluan itu terlihat sangat kencang.
“Ooohh enaak tante.., ooh Tante Fifi.., ooh Nyai.., oo.., hmm, enaak sekali.., oohh..memek enak” Kedua buah payudara itu seperti berayun keras mengikuti irama turun naiknya tubuh isteri pak Kiayi itu.
“Remees susu tante sayang, oohh.., yaahh.., pintar kamu.., oohh.., tante nggak percaya kamu bisa seperti ini, oohh.., pintar kamu Didi oohh.., ganjal kepalamu dengan bantal ini sayang”, Tante Fifi meraih bantal yang ada di samping kirinya dan memberikannya padaku.
“Maksud tante supaya aku bisa.., crup.., crup..”, mulutku menerkam puting payudaranya.
“Yaahh sedot susu tante lagi sayang.., mm.., yak begitu teruus yang kiri sayang oohh”.
Tante Fifi menundukkan badan agar kedua buah dadanya terjangkau mulutku. Decak becek pertemuan pangkal paha kami semakin terdengar seperti tetesan air, liang vaginanya semakin licin saja. Entah sudah berapa puluh cc cairan kelamin isteri pak Kiayi yang meluber membasahi dinding vaginanya. Tiba-tiba aku teringat adegan filn porno yang dulu pernah kulihat,
“Yap.., doggie style!” batinku berteriak kegirangan, mendadak aku menahan goyangan Tante Fifi yang tengah asyik.
“Huuhh.., oohh ada apa sayang?”, nafasnya tersenggal.
“Saya mau pakai gaya yang ada di film, tante”.
“Gaya yang mana, yah..,?”.
“Yang dari belakang tante harus nungging”.
“Hmm.., tante ngerti.., boleh”, katanya singkat lalu melepaskan gigitan vaginanya pada penisku.
“Yang ini maksud kamu?”, isteri pak Kiayi itu menungging tepat di depanku yang masih terduduk.
“Iya Nyai ini namanya anjing kawin..”
Hmm lezatnya, pantat Tante Fifi yang besar itu kuremas-remas dan belahan bibir vaginanya yang memerah membuat nafsuku memuncak, aku langsung mengambil posisi dan tanpa permisi lagi menyusupkan penisku dari belakang. Kupegangi pinggangnya, sebelah lagi tanganku meraih buah dada besarnya.
“Ooohh.., ngg.., Agggh yang ini hebaat Di.., oohh, genjot yang keras sayang, oohh.., tambah keras lagi..,”
“Uuuhh… Enak ya Nyai?. Aku suka ngentot sama Nyai ayo tante jalang goyangin dong pantatnya.”
“Oooooh Di setubuhi aku sesuka hatimu, tante suka Di.”
Kata-kata kotor Didi membuat isteri pak Kiayi itu kian terangsang hebat ia goyangkan pantatnya mengikuti irama tusukan penis yang menerobos liang vaginanya.
Kepalanya menggeleng keras ke sana ke mari, aku rasa Tante Fifi sedang berusaha menikmati gaya ini dengan semaksimal mungkin. Teriakannyapun makin ngawur.
“Ooohh.., jangan lama-lama lagi sayang tante mau keluar lagi ooh..” aku menghentikan gerakan dan mencabut penisku.
“Baik tante sekarang.., mm, coba tante berbaring menghadap ke samping, kita selesaikan dengan gaya ini”.
“Kamu sudah mulai pintar sayang mmhh”, Tante Fifi mengecup bibirku.

Perintahku pun diturutinya, ia seperti tahu apa yang aku inginkan. Ia menghempaskan badannya kembali dan berbaring menghadap ke samping, sebelah kakinya terangkat dan mengangkang, aku segera menempatkan pinggangku di antaranya. Buah penisku bersiap lagi.
“Aaahh tante.., uuhh.., nikmat sekali, oohh.., Nyai sekarang, oohh.., saya nggak tahan Nyai.., enaak.., oohh”.
“Tante juga Didi.., Didi.., Didi sayaangg, oohh.., keluaar samaan sayaang ooh” kami berdua berteriak panjang, badanku terasa bergetar, ada sebentuk energi yang maha dahsyat berjalan cepat melalui tubuhku mengarah ke bawah perut dan,
“Craat.., cratt.., craatt.., cratt”, entah berapa kali penisku menyemburkan cairan kental ke dalam rahim isteri pak Kiayi yang tampak juga mengalami hal yang sama, selangkangan kami saling menggenjot keras.
Tangan Tante Fifi meremas sprei dan menariknya keras, bibirnya ia gigit sendiri. Matanya terpejam seperti merasakan sesuatu yang sangat hebat, tubuhnya berkejat kejat isteri pak Kiayi itu mengerang seperti anak kucing.
Beberapa menit setelah itu kami berdua terkapar lemas, Tante Fifi memelukku erat, sesekali ia mencium mesra. Tanganku tampaknya masih senang membelai lembut buah dada Tante Fifi. Kupintir-pintir putingnya yang kini mulai lembek. Mataku memandangi wajah manis perempuan paruh baya itu, meski umurnya sudah berkepala empat namun aku masih sangat bernafsu melihatnya. Wajahnya masih menampakkan kecantikan dan keanggunannya. Meski mulai tampak kerutan kecil di leher wanita itu tapi.., aah, persetan dengan itu semua, Tante Fifi adalah wanita pertama yang memperkenalkan aku pada kenikmatan seksual. Bahkan dibanding Devi, Rani, Shinta dan teman sekelasku yang lain, perempuan paruh baya ini jauh lebih menarik.
“Tante nggak nyangka kamu bisa sekuat ini, Di..”.
“Hmm..”.
“Betul ini baru yang pertama kali kamu lakukan?”.
“Iya tante..”.
“Nggak pernah sama pacar kamu?”.
“Nggak punya tante..”.
“Yang bener aja ah”.
“Iya bener, nggak bohong kok, tante.., tante nggak kapok kan ngajarin saya yang beginian?”.
“Ya ampuun..” Ia mencubit genit, “Masa sih tante mau ngelepasin kamu yang hebat gini, tahu nggak Di, suami tante nggak ada apa-apanya dibanding kamu..”.
“Maksud tante?”.
“Pak Fuad itu kalau main paling lama tiga menit.., lha kamu? Tante sudah keluar beberapa kali kamu belum juga, apa nggak hebat namanya”.
“Ngaak tahu deh tante, mungkin karena baru pertama ini sih..”.
“Tapi menurut tante kamu emang punya bakat alam, lho? Buktinya baru pertama begini saja kamu sudah sekuat itu, apalagi kalau sudah pengalaman nanti.., pasti tante kamu bikin KO.., lebih dari yang tadi”.
“Terima kasih tante..”.
“Untuk?”.
“Untuk yang tadi… Karena saya bisa ngentotin Nyai, saya sudah lama mengkhayali Nyai sambil beronani dan malam ini saya puas sekali bisa menyetubuhi isteri pak Kiayi yang cantik ini he heee.”
“Tante yang terima kasih sama kamu.., kamu yang pertama membuat tante merasa seperti ini”.
“Saya nggak ngerti..”.
“Di.., dua puluh tahun lebih sudah usia perkawinan tante dengan Pak Fuad. tak pernah sedetikpun tante menikmati hubungan badan yang sehebat ini. Suami tante adalah tipe lelaki egois yang menyenangkan dirinya saja. Tante benar-benar telah dilecehkannya. Belakangan tante berusaha memberontak, rupanya dia sudah mulai bosan dengan tubuh tante dan seperti rekannya yang lain sesama Kiayi, ia menyimpan beberapa wanita sebagai isteri kedua untuk melampiaskan nafsu seksnya. Tante tahu semua itu dan tante nggak perlu cerita lebih panjang lebar karena pasti kamu sudah sering mendengar pertengkaran tante”, Suaranya mendadak serius, tanganku memeluk tubuhnya yang masih telanjang.

Ada sebersit rasa simpati mendengar ceritanya yang polos itu, betapa bodohnya lelaki bernama Kiayi Fuad itu punya perempuan secantik dan senikmat ini di biarkan merana.

Tante Fifi terpejam begitu tanganku menyentuh permukaan buah dadanya, merayap perlahan menyusuri kelembutan bukit indah itu menuju puncak dan,
Mmm a.. aku memintir putingnya yang coklat kemerahan itu.
“Agggh?” telapak tanganku mulai lagi, meremasnya satu persatu,
“Hmm”, dengan sebelah tangannya ia meraih penisku yang mulai tegang, jari telunjuk Tante Fifi mengurut tepat di leher bawah kepala penisku, semakin tegang saja, shitt.., aku nggak bisa bersuara. Aku tak tahan dan beranjak turun dari tempat tidur itu dan langsung berjongkok tepat di depan pahanya di pinggiran tempat tidur, menguak sepasang paha montok dan putih itu ke arah berlawanan.
“Mmmhh.., aahh.., oh nggak,.., uuhh” lidahku langsung mendarat di permukaan segitiga terlarang itu.
“Ssshh yaa.., enakk..?,
Lidahku kian mengganas, kelentit sebesar biji kacang itu sengaja kusentuh.
“Mmm fuuhh.., Tante akan layani kamu sampai kita berdua nggak kuat lagi. Kamu boleh lakukan apa saja. Puaskan diri kamu sayang aahh”, aku tak mempedulikan kata-katanya, lidahku sibuk di daerah selangkangannya.

Malam itu benar-benar surga bagi kami, permainan demi permainan dengan segala macam gaya kami lakukan. Di karpet, sampai sekitar pukul tiga dini hari. Kami sama-sama bernafsu, aku tak ingat lagi berapa kali kami melakukannya. Seingatku disetiap akhir permainan, kami selalu berteriak panjang. Benar-benar malam yang penuh kenikmatan.
Aku terbangun sekitar jam 11 siang, badanku masih terasa sedikit pegal. Tante Fifi sudah tidak ada di sampingku.
“Tante..?” panggilku setengah berteriak, tak ada jawaban dari istri pak Kiayi yang semalam suntuk kutiduri itu.



Aku beranjak dari tempat tidur dan memasang celana pendek, sprei dan bantal-bantal di atas tempat tidur itu berantakan, di banyak tempat ada bercak-bercak bekas cairan kelamin kami berdua. Aku keluar kamar dan menemukan secarik kertas berisi tulisan tangan Tante Fifi, ternyata ia harus ke tempat ke sekolah tempat ia mengajar karena ada yang harus dikerjakan.
“Hmm.., padahal kalau main baru bangun tidur pastilah nikmat sekali”, pikiranku ngeres lagi.
Aku kembali ke kamar Tante Fifi yang berantakan oleh kami semalam, lalu dengan cekatan aku melepas semua sprei dan selimut penuh bercak itu. Kumasukkan ke mesin cuci. Tiga puluh menit kemudian kamar dan ruang kerja pak Kiayi kubuat rapi kembali. Siap untuk kami pakai main lagi.
“Shit….! Aku lupa sekolah.., ampuun gimana nih”,
Sejenak aku berpikir dan segera kutelepon Tante Fifi.
“Selamat pagi?”, suara operator.
“Ya Pagi.., Bu Fifi ada?”.
“Dari siap, pak?”.
“Bilang dari Sonny, anaknya..”.
“Oh Mas sonny”.
“Huh dasar sok akrab”, umpatku dalam hati.
“Saya, Tante. Didi bukan ..”.
“Eh kamu sayang.., gimana? mau lagi? Sabar ya, tungguin tante..”.
“Bukan begitu tante.., tapi saya jadi telat bangun.., nggak bisa masuk sekolah”.
“Oooh gampang.., ntar tante yang telepon Pak Yogi, kepala sekolah kamu itu.., tante bilang kamu sakit yah?”.
“Nggak ah tante, ntar jadi sakit beneran..”.
“Tapi emang benar kan kamu sakit.., sakit.., sakit anu! Nah lo!”.
“Aaah, tante.., tapi bener nih tante tolong sekolah saya di telepon yah?”.
“Iya.., iya.., eh Di.., kamu kepingin lagi nggak..”.
“Tante genit”.
“Nggak mau? Awas lho Tante cari orang lain..”.
“Ah Tante, ya mau dong.., semalam nikmat yah, tante..”
“Kamu hebat!”.
“Tante juga.., nanti pulang jam berapa?”.
“Tunggu aja.., sudah makan kamu?”.
“Belum, tante sudah?”.
“Sudah.., mm, kalau gitu kamu tunggu aja di rumah, tante pesan catering untuk kamu.., biar nanti kamu kuat lagi”.
“Tante bisa aja.., makasih tante..”.
“Sama-sama, sayang.., sampai nanti ya, daahh”.
“Daah, tante”.
Tak sampai sepuluh menit seorang delivery service datang membawa makanan.
“Ini dari, Bu Fifi, Mas talong ditandatangan. Payment-nya sudah sama Bu Fifi”.
“Makasih, mang..”.
“Sama-sama, permisi..”.
Aku langsung membawanya ke dalam dan menyantapnya di depan pesawat TV, sambil melanjutkan nonton film porno, untuk menambah pengalaman. Makanan kiriman Tante Fifi memang semua berprotein tinggi. Aku tahu benar maksudnya. Belum lagi minuman energi yang juga dipesannya untukku. Rupanya istri pak Kiayi itu benar-benar menikmati permainan seks kami semalam, eh aku juga lho.., kan baru pertama. Sambil terus makan dan menyaksikan film itu aku membayangkan tubuh dan wajah Tante Fifi bermain bersamaku. Penisku terasa pegal-pegal dibuatnya. Huh.., aku mematikan TV dan menuju kamarku.
“Lebih baik tidur dan menyiapkan tenaga..”, aku bergumam sendiri dalam kamar.
Sambil membaca buku pelajaran favorit, aku mencoba melupakan pikiran-pikiran tadi. Lama-kelamaan akupun tertidur. Jam menunjukkan pukul 12.45.Sore harinya aku terbangun oleh kecupan bibir Tante Fifi yang ternyata sudah ada di sampingku.
“Huuaah.., jam berapa sekarang tante?”.
“Hmm.., jam lima, tante dari tadi juga sudah tidur di sini, sayang kamu tidur terlalu lelap. Tante sempat tidur kurang lebih dua jam sejak tante pulang tadi, gimana, kamu sudah pulih..”.
“Sudah dong tante, empat jam lebih tidur masa sih nggak seger..”, kami saling berciuman mesra,
“Crup.., crup”, lidah kami bermain di mulutnya.
“Eh.., tante mau jajan dulu ah.., sambil minum teh, yuuk di taman. Tadi tante pesan di Dunkin.., ada donat kesukaan kamu”, ia bangun dan ngeloyor keluar kamar.
“Uh.., Tante Fifi..”, gumamku pelan melihat bahenolnya tubuh kini terbungkus terusan sutra transparan tanpa lengan.
Bayangan CD dan BH-nya tampak jelas. Aku masih senang bermalas-malasan di tempat tidur itu, pikiranku rasanya tak pernah bisa lepas dari bayangan tubuhnya. Beberapa saat saja penisku sudah tampak tegang dan berdiri, dasar pemula! Sejak sering tegang melihat tubuh Tante Fifi sebulan belakangan ini, aku memang jarang memakai celana dalam ketika di rumah agar penisku bisa lebih leluasa kalau berdiri seperti ini.
“Hmm, tante Fifi.., aahh Nyai yang cantik” desahku sambil menggenggam sendiri penisku, aneh.., aku membayangkan orang yang sudah jelas bisa kutiduri saat itu juga, tak tahulah.., rasanya aku gila!
Tanganku mengocok-ngocok sendiri hingga kini penis besar dan panjang itu benar-benar tegak dan tampak perkasa sekali. Aku terus membayangkan bagaimana semalam kepala penis ini menembus dan melesak keluar masuk vagina Tante Fifi. Kutengok ke sana ke mari.
“Tante..”, panggilku.
“Di dapur, sayang”, sahutnya setengah berteriak, aku bergegas ke situ, kulihat ia sedang menghangatkan donat di microwave.
Dan.., uuhh, tubuh yang semalam kunikmati itu, dari arah belakang.., bayangan BH dan celana dalam putih di balik gaun sutranya yang tipis membuatku berkali-kali menelan ludah.
“Uuuhh tante.., sayang”, tak sanggup lagi rasanya aku menahan birahiku, kupeluk ia dari belakang, sendok yang ada di tangannya terjatuh, penisku yang sudah tegang kutempelkan erat di belahan pantatnya.
“Aduuhh.., Didi nakal kamu ah..” ia melirikku dengan pandangan menggoda.
Aku semakin berani, tangan kananku meraih buah dada Tante Fifi dari celah gaun di bawah ketiaknya. Lalu tangan kiriku merayap dari arah bawah, paha yang halus putih mulus itu terus ke arah gundukan kemaluannya yang masih berlapis celana dalam. Telunjuk dan jari tengahku langsung menekan, mengusap-usap dan mencubit kecil bibir kemaluannya.
“Ehhmm.., nngg.., aahh.., nakaal, Didi”.
“Tante.., tante, saya nggak tahan ngeliat tante.., saya bayangin tubuh tante terus dari tadi pagi”
Tangan kiriku menarik ujung celana dalam itu turun, ia mengangkat kakinya satu persatu dan terlepaslah celana dalamnya yang putih. Kutarik cup BH-nya ke atas hingga tangan kananku kini bebas mengelus dan meremas buah dadanya. Dengan gerak cepat kulorotkan pula celana dalam yang kupakai lalu bergegas tangan kiriku menyingkap gaun sutranya ke atas. Kudorong tubuh isteri pak Kiayi itu sampai ia menunduk dan terlihatlah dengan jelas celah vaginanya yang masih tampak tertutup rapat. Aku berjongkok tepat di belakangnya.
“Idiihh, Didi. Tante mau diapain nih..”, katanya genit.
Lidahku menjulur ke arah vaginanya. Aroma daerah kemaluan itu merebak ke hidungku, semakin membuatku tak sabar dan..,
“Huuhh.., srup.., srup.., srup”, sekali terkam bibir vagina sebelah bawah itu sudah tersedot habis dalam mulutku.
“Aaahh.., Didi.., enaakk..”, jerit perempuan setengah baya itu, tangannya berpegang di pinggiran meja dapur.
“Aaawww.., gelii”, kugigit pantatnya.
Uuh, bongkahan pantat inilah yang paling mengundang birahiku saat melihatnya untuk pertama kali. Mulus dan putih, besar menggelembung dan montok.
Lima menit kemudian aku berdiri lagi setelah puas membasahi bibir vaginanya dengan lidahku. Kedua tanganku menahan gerakan pinggulnya dari belakang, gaun itu masih tersingkap ke atas, tertahan jari-jari tanganku yang mencengkeram pinggulnya. Dan hmm, kuhunjamkan penis besar dan tegang itu tepat dari arah belakang,
“Sreep.., Bleess”, langsung menggenjot keluar masuk vagina Tante Fifi.
“Aaahh.., Didi.., enaak.., huuhh tante senang yang ini oohh..”
“Enak kan tante.., hmm.., oohh.., agak tegak tante biar susunya.., yaakk ooh enaakk”.
“Yaahh.., tusuk yang keras.., hmm.., tante nggak pernah gini sebelumnya.., oohh enaakk pintarnya kamu sayaang.., oohh enaak.., terus.., terus yah tarik dorong keeraass.., aahh.., kamu yang pertama giniin tante, Di.., oohh.., sshh..”, hanya sekitar tiga menit ia bertahan dan,
“Hoohh.., tante.., mauu.., keluar.., sekarang.., ooh hh.., sekarang Di, aahh..”
Vaginanya menjepit keras, badannya tegang dengan kepala yang bergoyang keras ke kiri dan ke kanan.
Aku tak mempedulikannya, memang sejenak kuberi ia waktu menarik nafas panjang. Aku membiarkan penisku yang masih tegang itu menancap di dalam. Ia masih menungging kelelahan.
“Balik Nyai..”, pintaku sambil melepaskan gigitan di kemaluannya.
“Apalagi, sayang.., ya ampun tante nggak kuat.., aahh”.
Aku meraih sebuah kursi. Ia mengira aku akan menyuruhnya duduk,
“Eiih bukan tante, sekarang tante nyender di dinding, kaki kiri tante naik di kursi ini..”.
“Ampuun, Didi.., tante mau diapain sayang..”, ia menurut saja.
Woow! Kudapatkan posisi itu, selangkangan itu siap dimasuki dari depan sambil berdiri, posisi ini yang membuatku bernafsu.
“Sekarang Nyai sayang.., yaahh..”, aku menusukkan penisku dari arah depannya, penisku masuk dengan lancar.
Tanganku meremas kedua susunya sedangkan mulut kami saling mengecup.
“Mmmhh.., hhmm..”, ia berusaha menahan kenikmatan itu namun mulutnya tertutup erat oleh bibirku.
Hmm, di samping kanan kami ada cermin seukuran tubuh. Tampak pantatku menghantam keras ke arah selangkangannya. Penisku terlihat jelas keluar masuk vaginanya. Payudaranya yang tergencet dada dan tanganku semakin membuatku bernafsu.
“Cek.., cek.., cek”, gemercik suara kemaluan kami yang bermain di bawah sana.
Kulepaskan kecupanku setelah tampak tanda-tanda ia menikmatinya.
“Uuuhh hebaat.., kamu sayang.., aduuh mati tante.., aahh enaak mati aku Di, oohh.., ayo keluarin sayang.., aahh entotin tante yang kuat Aggggh.., sudah mau sampai lagi niih aahh..” wajahnya tampak tegang lagi, pipinya seperti biasa, merah, sebagai tanda ia segera akan orgasme lagi.
“Ayooo nikmati Nyai kontol besarku. Goyangin dong Nyai pantatnya, duh enaknya ngentot sama Nyai.
Kupaksakan diriku meraih klimaks itu bersamaan dengannya. Aku agaknya berhasil, perlahan tapi pasti kami kemudian saling mendekap erat sambil saling berteriak keras.
“Aaahh.., tante keluaar..”.
“Saya juga Nyai huuhh.., nikmat.., nikmat.., oohh.., Nyai Fifi.., aahh”, dan penisku,
“Crat.., crat.., crat.., seer”, menyemprotkan cairannya sekitar lima enam kali di dalam liang vagina isteri pak Kiayi yang juga tampak menikmati orgasmenya untuk kedua kali.
“Huuhh.., capeekk.., sayang” ia melepaskan pelukannya dan penisku yang masih menancap itu.
Hmm, kulihat ada cairan yang mengalir di pahanya bagian dalam, ada yang menetes di lantai.
“Mau di lap Nyai?”, aku menawarkan tissue.
“Nggak sayang.., tante senang, kok. Tante bahagia.., yang mengalir itu sperma kamu dan cairan kelamin tante sendiri. Tante ingin menikmati terus rasa penismu..”, ia berkata begitu sambil memberiku sebuah ciuman.
“Hmm.., Tante Fifi..”, Kuperbaiki letak BH dan rambutnya yang acak-acakan, kemudian ia kembali menyiapkan jajanan yang sempat terhenti oleh ulah nakalku.
Aku kembali ke kamar dan keluar lagi setelah mengenakan baju kaos. Tante Fifi telah menunggu di taman belakang rumahnya yang sangat luas, kira-kira sekitar 25 acre. Kami duduk santai berdua sambil bercanda menikmati suasana di pinggiran sebuah danau buatan. Sesekali kami berciuman mesra seperti pengantin baru yang lagi haus kemesraan. Jadilah dua minggu kepergian pak Kiayi Fuad itu surga dunia bagiku dan Nyai Fifi. Kami melakukannya setiap hari, rata-rata empat sampai lima kali sehari!

Selasa, 28 Juli 2015

Cerita Dewasa Diperkosa Pembantu

Cerita Dewasa Diperkosa Pembantu – Nih kali ini info terbaru akan memberikan artikel terbaru yang memang di edisi postingan kali ini adalah hiburan jadi sobat bisa melihat sesuai judul yang diatas yaitu tentang cerita dewasa lucu dan gokil abis deh bisa membuat sobat tertawa tidak percaya? silahkan buktikan sendiri dan tes sendiri yah berikut ini cerita lucu dewasa nya dibawah ini yang bisa dilihat



Sambil menangis Sinta istri Jerry menelpon suaminya dikantor :
jerry : “Kenapa kamu nangis sayang ?
Sinta : Aku baru diperkosa.....
Jerry : Sama siapa ? kapan ?
( Berteriak dan marah…>:O >:O).
Sinta : Sama ParmiN pembantu baru kita.
Jerry : Apa ?? !!! ParmiN ??>:O
Sinta : iya, Tadi waktu hujan.. katanya kamu yang suruh !!
Jerry : Apa ma ?? aku yang suruh ? >:O >:O.
Sinta : ParmiN bilang dapat SMS dari kamu, emang tadi km SMS apa ?
Jerry : iya tadi aku SMS PARMIN ! !
KALAU MENDUNG BAJU SAMA ROK NYONYA DIANGKAT YA…JANGAN LUPA.. SEKALIAN BURUNGNYA DIMASUKIN =)) X_X.
Hªª=DHªª=DHªª=DHªª=DHªª=DHªª=D

Gimana lucu kan? kalau memang sobat suka nanti saya akan bagikan cerita lucu dan gokil lainnya yang dapat membuat sobat tersenyum lebar oke mungkin sekian dulu artikel Cerita Dewasa Diperkosa Pembantu kali ini semga dapat terhibur yah karena postingan kali ini edisi hiburan

Karyawan cantik berpayudara besar

Cerita Lucu – Bingung saya mau ngasih judul apa yang tentunya ini adalah cerita lucu yang semata untuk hiburan para sobat semua dapat mengocok perut sobat silahkan saja nanti disimak yah cerita lucu nya tentunya gokil abis deh bagi kalian yang lagi galau, suntuk dan lain sebagainya dapat dibaca nih cerita lucu ini yang saya beri judul Cerita Dewasa Si Karyawan Cantik Berpayudara Besar untuk biyar pada penasaran semata hehe.

Oke kalau begitu tidak usah perlu banyak bicara langsung saja sobat bisa dilihat cerita dewasa lucu dan gokil abiz nya langsung dibawah ini


Alkisah dewi karyawan cantik berpayudara besar datang keruangan bos nya untuk meminta naik gaji.
Dewi : pak saya minta naik gaji dong (sambil mendekatkan dadanya ke muka bosnya)
Bos : Ga bisa! km kerjaannya malas (tapi sambil melirik ke dada dewi)
Dewi : Kl dinaiikin 50 ribu saya buka kancing 1 pak (sambil memegang kancingnya siap membuka)
Bos : (mikir cuma 50rB) okelah buka 1 kancing
(Dewi membuka satu kancing)
Dewi : Mau 1 kancing lagi pak?? Jadi tambah 100rb..
Boss : (makin penasaran dan deg deg an) boleh lah 100rb.
Dewi : nanggung lho pak 2 kancing lg..
(Boss tambah penasaran dan keringat dingin melihat dada dewi)
Boss : Ada berapa kancing baju km?buka semua..
(Lalu Dewi membuka kancing2 bajunya dan berkata)
Dewi : ada 4 pak jadi nambah 200rb ya, tuh udah liat kan..makasi ya pak (lalu dewi berjalan ke arah pintu keluar)
Boss : lho mau kemana km?kancingin dulu baju kamu sebelum keluar..apa kata orang, kalo kamu keluar dari ruangan saya kancingnya lepas gitu.
Dewi : Kalau mau saya kancingin, 1 kancingnya naik 1 jt pak
Boss : eehh busyeett :s :& :]xx  
Gimana lucu tidak? kalau sobat suka nanti saya berikan cerita gokil dan lucu lainnya yang tentunya dapat membuat tertawa terbahak-bahak (lebay). Dan mungkin cukup sekian dulu yah untuk artikel yang saya berijudul karyawan cantik berpayudara besar ini semoga dapat terhibur